Opini

Bulan Kitab Suci Nasional 2026: Menemukan Wajah Yesus, Sang Guru yang Penuh Kuasa

Oleh: Francelino Xevier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng
-Mantan Dosen Seminario Menor Nossa Senhora de Fátima, Balide, Dili
-Alumni San Diego State University (SDSU), San Diego, California, USA

Pendahuluan

BULAN September ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). BKSN merupakan salah satu momentum penting dalam kehidupan Gereja Katolik di Indonesia untuk menghidupkan kembali kecintaan umat terhadap Kitab Suci. Selama bulan ini, umat diajak bukan hanya untuk membaca Alkitab sebagai sebuah buku keagamaan, melainkan untuk menjadikan Sabda Allah sebagai sumber iman, pedoman hidup, bahan doa, serta daya penggerak bagi perutusan Gereja di tengah dunia.

BKSN 2026 memiliki kekhasan tersendiri. Tema yang diangkat oleh Lembaga Biblika Indonesia adalah “Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.”

Tema ini menempatkan Injil Matius sebagai pintu masuk untuk mengenal pribadi dan karya Yesus secara lebih mendalam. Dalam Injil Matius, Yesus tampil sebagai Guru yang mengajar, membentuk murid, menafsirkan kehendak Allah, menyembuhkan, membebaskan, serta menghadirkan Kerajaan Allah melalui sabda dan tindakan-Nya.

Dengan demikian, BKSN 2026 bukan sekadar kegiatan membaca atau mendalami teks-teks Kitab Suci. Lebih jauh, BKSN menjadi kesempatan bagi umat untuk bertanya: Siapakah Yesus bagi saya? Apa yang diajarkan-Nya? Apakah saya sungguh menjadi murid-Nya? Dan bagaimana Sabda-Nya mengubah cara saya menjalani kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena kehidupan manusia dewasa ini dipenuhi oleh begitu banyak suara. Media sosial, berita, opini publik, iklan, tokoh masyarakat, influencer, dan berbagai bentuk komunikasi digital terus menawarkan gagasan mengenai apa yang dianggap benar, baik, sukses, dan bernilai. Di tengah begitu banyak suara tersebut, orang beriman membutuhkan sebuah suara yang dapat menjadi orientasi hidup. Bagi umat Kristiani, suara itu adalah Sabda Allah yang mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus.

1. Makna Bulan Kitab Suci Nasional

BKSN pada dasarnya merupakan sebuah kesempatan pastoral untuk membawa umat semakin dekat dengan Kitab Suci. Akan tetapi, kedekatan dengan Kitab Suci tidak boleh berhenti pada peningkatan pengetahuan mengenai isi Alkitab. Tujuan yang lebih mendalam adalah perjumpaan dengan Allah yang berbicara melalui Sabda-Nya dan terutama perjumpaan dengan Yesus Kristus, Sabda Allah yang menjadi manusia.

Konsili Vatikan II melalui Dei Verbum menegaskan bahwa Gereja menghormati Kitab Suci sebagaimana Gereja menghormati Tubuh Kristus. Dalam liturgi, Gereja terus-menerus menerima makanan kehidupan dari meja Sabda Allah dan meja Tubuh Kristus. Karena itu, Kitab Suci bukanlah unsur tambahan dalam kehidupan Gereja, melainkan salah satu sumber utama kehidupan iman umat.

Makna BKSN dapat dilihat sekurang-kurangnya dalam beberapa dimensi.

a. BKSN sebagai kesempatan untuk mendengarkan Allah
Kitab Suci merupakan kesaksian tertulis mengenai karya Allah dalam sejarah keselamatan. Ketika umat membaca dan merenungkannya dengan iman, umat tidak sekadar mempelajari peristiwa masa lampau. Umat membuka diri terhadap Allah yang tetap berbicara kepada manusia.

Dalam Dei Verbum, Gereja mengajarkan bahwa di dalam Kitab Suci, Bapa yang ada di surga datang menjumpai anak-anak-Nya dengan kasih dan berbicara dengan mereka. Sabda Allah memiliki daya untuk menopang dan menguatkan Gereja, meneguhkan iman, memberi makanan bagi jiwa, serta menjadi sumber kehidupan rohani.

Karena itu, membaca Kitab Suci seharusnya tidak hanya dilakukan dengan pertanyaan, “Apa arti teks ini?” tetapi juga, “Apa yang hendak Allah sampaikan kepada saya dan kepada komunitas saya melalui Sabda ini?”

b. BKSN sebagai kesempatan mengenal Kristus
BKSN 2026 secara khusus mengarahkan umat kepada Yesus dalam Injil Matius. Hal ini sangat penting karena membaca Kitab Suci pada akhirnya harus membawa umat kepada Kristus.

Paus Leo XIV dalam katekese mengenai Dei Verbum pada Februari 2026 menegaskan kembali bahwa Kitab Suci dalam kehidupan Gereja membawa umat kepada pengenalan akan Kristus dan membuka ruang dialog dengan Allah. Ia juga mengingatkan bahwa Kitab Suci memiliki tempat yang hidup dalam komunitas Gereja, terutama dalam liturgi.

Maka, BKSN bukan pertama-tama sebuah program “tentang Alkitab”. BKSN adalah perjalanan bersama Alkitab menuju Kristus.

c. BKSN sebagai kesempatan menjadi murid
Tema “Yesus Guru yang Penuh Kuasa” mengandung konsekuensi penting: jika Yesus adalah Guru, maka kita dipanggil menjadi murid.
Murid bukan hanya orang yang mengetahui ajaran gurunya. Murid adalah orang yang mendengarkan, belajar, mengikuti, dan akhirnya menjalankan apa yang diajarkan oleh gurunya.
Karena itu, BKSN hendaknya menghasilkan perubahan hidup. Pendalaman Kitab Suci harus membawa umat dari:
mendengar → memahami → merenungkan → percaya → melakukan → mewartakan.

Jika seseorang mengikuti pendalaman Kitab Suci selama satu bulan tetapi tidak mengalami perubahan dalam cara berpikir, berbicara, mengambil keputusan, mengampuni, mengasihi, dan melayani, maka buah BKSN belum mencapai kepenuhannya.

2. Tema BKSN 2026: “Yesus Guru yang Penuh Kuasa”

Tema BKSN 2026, “Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius,” mengajak umat melihat kembali siapa Yesus menurut kesaksian Injil Matius.

Kata “Guru” menunjukkan bahwa Yesus datang bukan hanya untuk melakukan mukjizat, tetapi untuk mengajar manusia mengenai kehendak Allah dan jalan kehidupan.

Sementara itu, “penuh kuasa” tidak boleh dipahami hanya sebagai kekuatan spektakuler. Kuasa Yesus dalam Injil adalah kuasa yang berakar pada hubungan-Nya dengan Bapa dan tampak dalam sabda, tindakan, belas kasih, pengampunan, penyembuhan, pembebasan, serta panggilan kepada pertobatan.

Kuasa Yesus adalah kuasa yang menyelamatkan dan mengubah kehidupan.

Dalam Injil Matius, Yesus tampil sebagai pribadi yang mengajar dengan kewibawaan. Ia bukan hanya mengulang ajaran yang sudah ada, tetapi membawa umat kepada kepenuhan kehendak Allah. Dalam Khotbah di Bukit, misalnya, Yesus membawa para pendengar-Nya masuk lebih dalam ke dalam makna hukum Allah: bukan hanya tindakan lahiriah, melainkan juga sikap hati.
Dengan demikian, Yesus sebagai Guru menghendaki perubahan manusia secara menyeluruh.

Ia tidak hanya mengajarkan:
“Lakukan ini.”
Tetapi juga mengajak:
“Jadilah manusia yang baru.”

3. Dasar Biblis BKSN 2026

Dasar biblis BKSN 2026 terutama dapat ditempatkan dalam kesaksian Injil Matius tentang Yesus sebagai Guru, Mesias, Anak Allah, dan Tuhan yang hadir di tengah umat-Nya.

a. Amanat Agung: “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”
Salah satu teks yang sangat penting adalah Matius 28:18-20.
Yesus yang bangkit menyatakan bahwa segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya. Kemudian Ia mengutus para murid untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya.

Teks ini sangat relevan dengan tema BKSN 2026.
Di sini terdapat hubungan antara:
kuasa Kristus → pengutusan → pemuridan → pengajaran → ketaatan → kehadiran Kristus.

Yesus adalah Guru yang penuh kuasa, tetapi kuasa itu tidak berhenti pada diri-Nya. Kuasa tersebut menggerakkan para murid untuk menjalankan perutusan.
Karena itu, pendalaman Kitab Suci tidak boleh hanya membuat umat menjadi “pintar Alkitab”. Umat dipanggil menjadi murid yang mampu menjalankan perintah Kristus dan mewartakannya kepada orang lain.

b. Yesus sebagai Guru dalam Khotbah di Bukit
Matius 5–7 merupakan salah satu bagian utama Injil Matius yang memperlihatkan Yesus sebagai Guru. Di sana Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Allah, sabda bahagia, kasih kepada musuh, doa, puasa, sedekah, pengampunan, hubungan dengan harta, dan kehidupan yang berakar pada kehendak Allah.

Khotbah di Bukit memperlihatkan bahwa menjadi murid Yesus berarti menjalani cara hidup yang berbeda.

Yesus tidak sekadar memberikan informasi agama. Ia menawarkan jalan hidup.
Karena itu, BKSN 2026 dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kehidupan umat:
• Apakah iman saya menghasilkan kasih?
• Apakah saya mampu mengampuni?
• Bagaimana sikap saya terhadap orang miskin dan menderita?
• Apakah saya menggunakan harta secara bertanggung jawab?
• Apakah saya mampu mengendalikan kemarahan dan kebencian?
• Apakah doa saya sungguh membentuk kehidupan?
• Apakah saya menjadi pembawa damai di keluarga, lingkungan, tempat kerja, dan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat Kitab Suci menjadi hidup.

c. Sabda yang didengarkan harus dilakukan
Matius 7:24-27 menggambarkan orang yang mendengarkan perkataan Yesus dan melakukannya sebagai orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu.
Perikop ini memberikan prinsip penting bagi BKSN: mendengar Sabda tanpa melaksanakannya belum menghasilkan kehidupan murid yang sejati.

Batu fondasi kehidupan Kristiani bukan sekadar pengetahuan tentang Yesus, melainkan ketaatan kepada Sabda-Nya.

Karena itu, ukuran keberhasilan BKSN bukan hanya banyaknya pertemuan, jumlah peserta, atau banyaknya materi yang selesai dibahas. Ukuran yang lebih mendalam adalah apakah Sabda Allah mulai menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan perilaku umat.

d. Sabda yang menghasilkan buah
Matius 13 tentang perumpamaan penabur juga memberikan dasar biblis yang kuat. Sabda Allah digambarkan seperti benih yang ditaburkan. Benih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah.

Gambaran ini sangat tepat untuk kehidupan BKSN.

Kitab Suci adalah benih. Pendalaman adalah proses menyiapkan tanah. Doa adalah proses membuka hati. Pertobatan adalah proses membersihkan tanah. Dan kehidupan kristiani adalah buahnya.

Dengan demikian, BKSN tidak berhenti pada “menaburkan” Sabda. Gereja juga perlu membantu umat agar Sabda tersebut berakar dan menghasilkan buah.

4. Tujuan BKSN 2026

Secara pastoral, BKSN 2026 dapat diarahkan kepada beberapa tujuan utama.
1. Membantu umat semakin mengenal Kitab Suci
Masih ada umat Katolik yang merasa bahwa Alkitab adalah buku yang sulit dipahami. Ada yang jarang membacanya karena tidak mengetahui dari mana harus mulai. Ada pula yang membaca Kitab Suci tetapi tidak mengetahui konteks, struktur, atau maksud teks.
BKSN menyediakan ruang bagi umat untuk belajar membaca Kitab Suci secara lebih baik.
Umat diajak mengenal Injil Matius, konteksnya, karakteristiknya, struktur kisahnya, serta cara Injil tersebut menampilkan Yesus.

2. Membantu umat mengenal Yesus secara lebih mendalam
Tujuan utama membaca Kitab Suci bukan sekadar mengetahui informasi mengenai tokoh-tokoh Alkitab.
Tujuan akhirnya adalah mengenal Kristus.
Mengenal Kristus berarti mengenal cara berpikir-Nya, hati-Nya, kehendak-Nya, belas kasih-Nya, cara-Nya memperlakukan manusia, serta jalan yang Ia tawarkan kepada para murid.

3. Membentuk umat menjadi murid Kristus
BKSN hendaknya menghasilkan umat yang bukan hanya “mengenal Yesus”, tetapi mengikuti Yesus.
Menjadi murid berarti bersedia dibentuk oleh Sabda.
Karena itu, setiap pendalaman Kitab Suci seharusnya memiliki dimensi transformasi: “Setelah memahami teks ini, apa yang harus saya ubah dalam kehidupan saya?”

4. Menghidupkan budaya membaca Kitab Suci
BKSN seharusnya tidak menjadi satu-satunya waktu umat membaca Alkitab.
Sebaliknya, BKSN hendaknya menjadi semacam “pintu masuk” menuju kebiasaan membaca Kitab Suci sepanjang tahun.
Dengan demikian, September bukan menjadi akhir dari aktivitas Kitab Suci, melainkan awal dari kebiasaan baru.

5. Menghubungkan Sabda dengan kehidupan nyata
Kitab Suci tidak boleh dipisahkan dari persoalan manusia konkret.
Sabda Allah perlu dibawa ke dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, relasi sosial, penggunaan media digital, persoalan lingkungan hidup, kepedulian kepada kaum miskin, kehidupan politik dan sosial, serta berbagai tantangan moral.
Kanon 769 Kitab Hukum Kanonik menegaskan bahwa ajaran Kristiani perlu disampaikan dengan cara yang sesuai dengan keadaan pendengar dan kebutuhan zaman.

Prinsip ini sangat relevan untuk BKSN: Sabda yang kekal harus terus dibaca dan diwartakan secara kontekstual.

5. Sasaran BKSN 2026

BKSN bukan hanya ditujukan kepada kelompok tertentu. Seluruh umat Allah merupakan sasaran pastoralnya.

a. Anak-anak
Anak-anak perlu diperkenalkan kepada Kitab Suci melalui bahasa dan metode yang sesuai dengan usia mereka.
Tujuannya bukan membuat anak menghafal sebanyak mungkin ayat, tetapi menanamkan kecintaan kepada Yesus dan pengalaman bahwa Sabda Allah dekat dengan kehidupan mereka.
Cerita Injil, gambar, permainan, drama, lagu, aktivitas kreatif, dan doa dapat menjadi sarana yang membantu.

b. Remaja dan Orang Muda Katolik
Kaum muda hidup dalam dunia yang penuh dengan informasi dan pilihan.
Mereka membutuhkan ruang untuk menemukan bahwa Injil bukan sesuatu yang jauh dari realitas mereka.

Tema “Sabda yang Menjawab Kegelisahan Zaman” bahkan telah digunakan dalam konteks BKSN OMK di Keuskupan Agung Jakarta, dengan perhatian khusus pada tantangan kaum muda untuk menjadi pribadi yang teguh dan membangun persaudaraan.

Dengan demikian, pendalaman Kitab Suci bagi kaum muda perlu menyentuh pertanyaan konkret mengenai identitas, masa depan, relasi, persahabatan, tekanan sosial, teknologi digital, pekerjaan, panggilan hidup, dan pencarian makna.

c. Orang dewasa dan keluarga
Keluarga merupakan tempat yang sangat penting untuk menghidupkan Sabda Allah.
BKSN dapat menjadi momentum untuk mendorong keluarga memiliki waktu membaca Kitab Suci bersama.
Keluarga dapat menjadikan Sabda sebagai bahan percakapan:
“Apa yang Tuhan katakan kepada keluarga kita hari ini?”
Dengan cara demikian, Kitab Suci tidak hanya dibaca di gereja, tetapi masuk ke dalam rumah.

d. Para pendamping dan fasilitator
Kualitas BKSN sangat bergantung pada kualitas pendamping.
Karena itu, para fasilitator perlu memiliki kemampuan dasar dalam memahami Kitab Suci, memimpin sharing, mengelola dinamika kelompok, dan membantu peserta menghubungkan teks dengan kehidupan.
LBI pada 2026 juga terlibat dalam pembekalan fasilitator dan sosialisasi tema BKSN, menunjukkan pentingnya peran para pendamping dalam membantu umat memasuki proses pendalaman Kitab Suci.

e. Para imam, diakon, religius, katekis, dan pelayan pastoral
Mereka memiliki tanggung jawab khusus dalam pelayanan Sabda.
Dei Verbum menekankan bahwa para pelayan Sabda perlu tekun membaca dan mempelajari Kitab Suci agar mereka tidak menjadi pewarta yang hanya berbicara tentang Sabda secara lahiriah tetapi tidak mendengarkannya secara batiniah.

6. Dasar Biblis yang Lebih Luas

Selain Injil Matius, BKSN juga memiliki dasar biblis yang sangat luas dalam keseluruhan Kitab Suci.
“Firman itu telah menjadi manusia” — Yohanes 1:14
Puncak pewahyuan Allah bukanlah sebuah buku, melainkan pribadi Yesus Kristus.

Kitab Suci bersaksi tentang Dia. Karena itu, membaca Kitab Suci harus membawa kita kepada Kristus.

Yesus adalah Sabda yang menjadi manusia. Dengan demikian, BKSN tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan iman kepada Kristus.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku” — Mazmur 119:105
Sabda Allah memberi arah.

Dalam dunia yang penuh kebingungan, umat membutuhkan orientasi moral dan spiritual. Kitab Suci membantu manusia melihat kehidupannya dalam terang Allah.
“Firman Allah hidup dan kuat” — Ibrani 4:12
Sabda Allah bukan benda mati.
Sabda memiliki daya untuk menyentuh hati, membongkar kepalsuan, menghibur yang terluka, menegur yang salah, menguatkan yang lemah, dan memanggil manusia kepada pertobatan.
“Berbahagialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya” — Lukas 11:28
Sabda harus didengar dan dipelihara.
Inilah inti spiritualitas BKSN: mendengar, menyimpan dalam hati, dan melaksanakannya.

7. Dasar Gerejawi: Dei Verbum
Dasar penting bagi seluruh pastoral Kitab Suci dalam Gereja Katolik adalah Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum.
Dokumen ini menempatkan Kitab Suci secara sangat penting dalam kehidupan Gereja.

Dei Verbum 21 menyatakan bahwa seluruh pewartaan Gereja harus dipelihara dan diarahkan oleh Kitab Suci. Kitab Suci menjadi penopang Gereja, kekuatan iman, makanan jiwa, dan sumber kehidupan rohani.

Dei Verbum 22 juga menekankan pentingnya menyediakan akses yang mudah kepada Kitab Suci bagi seluruh umat beriman dan mendorong tersedianya terjemahan yang sesuai ke dalam berbagai bahasa.

Sementara itu, Dei Verbum 25 secara khusus mengajak seluruh umat beriman untuk membaca Kitab Suci dengan tekun. Para klerus, terutama para imam, diakon, dan mereka yang menjalankan pelayanan Sabda, dituntut untuk memiliki kedekatan yang serius dengan Kitab Suci. Umat beriman pada umumnya juga dianjurkan membaca Kitab Suci secara teratur.

Dengan demikian, BKSN memiliki dasar yang kuat dalam visi Gereja Konsili Vatikan II: Kitab Suci harus sungguh-sungguh menjadi bagian dari kehidupan umat.

8. Dasar Kanonik BKSN

BKSN juga dapat dipahami dalam kerangka hukum Gereja, khususnya bagian Kitab Hukum Kanonik mengenai tugas mengajar Gereja dan pelayanan Sabda Allah.

Kanon 747: Gereja memiliki tugas mewartakan Injil
Gereja menerima dari Kristus tugas untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa.

Karena itu, kegiatan Kitab Suci tidak boleh dipandang sebagai kegiatan tambahan yang tidak berhubungan dengan misi Gereja. Pendalaman Kitab Suci merupakan bagian dari tugas Gereja untuk menghadirkan Injil.

Kanon 756–759: Tanggung jawab pewartaan
Kitab Hukum Kanonik menempatkan tanggung jawab pewartaan secara bertingkat: Paus dan para uskup memiliki tanggung jawab utama dalam Gereja universal dan partikular; para imam dan diakon menjalankan pelayanan Sabda; anggota hidup bakti memberi kesaksian khusus; dan umat awam, berdasarkan Baptis dan Krisma, juga dipanggil menjadi saksi Injil serta dapat bekerja sama dalam pelayanan Sabda.

Ini memiliki konsekuensi pastoral yang besar bagi BKSN.
BKSN bukan hanya tugas pastor paroki atau seksi Kitab Suci. Seluruh umat memiliki tempat dalam pewartaan Sabda.

Para imam, diakon, religius, katekis, fasilitator, orang tua, guru, kaum muda, dan umat awam semuanya dapat mengambil bagian sesuai dengan panggilan dan tugas masing-masing.

Kanon 760: Pelayanan Sabda harus berakar pada Kitab Suci
Kanon 760 menyatakan bahwa misteri Kristus harus disampaikan secara utuh dan setia dalam pelayanan Sabda, yang berlandaskan Kitab Suci, Tradisi, liturgi, magisterium, dan kehidupan Gereja.

Kanon ini memberikan prinsip penting bagi BKSN:
Pendalaman Kitab Suci harus tetap berada dalam iman Gereja.
Artinya, Kitab Suci tidak boleh diperlakukan sebagai teks yang bebas ditafsirkan menurut selera pribadi tanpa memperhatikan iman, Tradisi, liturgi, dan ajaran Gereja.

Kanon 761: Berbagai sarana pewartaan
Gereja menggunakan berbagai sarana untuk mewartakan ajaran Kristiani: pewartaan, katekese, pendidikan, konferensi, pertemuan, media komunikasi, dan berbagai bentuk lainnya.

Prinsip ini membuka ruang yang luas bagi kreativitas BKSN.
Pendalaman dapat dilakukan melalui:
• pertemuan lingkungan;
• kelompok Kitab Suci;
• keluarga;
• sekolah;
• komunitas kategorial;
• OMK;
• media digital;
• podcast;
• video;
• seminar;
• retret;
• lectio divina;
• lomba atau kegiatan kreatif;
• renungan harian;
• dan berbagai bentuk pastoral lainnya.

Kanon 769: Sabda harus dikontekstualisasikan
Kanon 769 memberikan prinsip yang sangat relevan: ajaran Kristiani harus disampaikan dengan cara yang sesuai dengan kondisi pendengar dan kebutuhan zaman.

Dengan demikian, BKSN tidak boleh menggunakan satu metode yang sama untuk semua kelompok.
Bahasa untuk anak-anak berbeda dari bahasa untuk orang dewasa. Metode untuk OMK berbeda dari metode untuk lansia. Pendekatan di sekolah berbeda dari pendekatan dalam keluarga.
Namun, meskipun metode berbeda, pusatnya tetap sama: Kristus dan Sabda-Nya.

Kanon 825: Kitab Suci dan terjemahan yang disetujui
Aspek lain yang penting adalah Kanon 825. Kitab Suci tidak dapat diterbitkan begitu saja tanpa persetujuan otoritas Gereja yang berwenang. Terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat juga membutuhkan persetujuan yang sesuai dan harus dilengkapi dengan penjelasan yang diperlukan.

Hal ini menunjukkan bahwa Gereja memandang Kitab Suci sebagai sesuatu yang sangat penting sehingga penggunaannya dalam kehidupan umat perlu dijaga agar tetap setia kepada iman Gereja.

9. BKSN dan Hubungan antara Kitab Suci dan Tradisi

Salah satu hal yang perlu ditekankan dalam BKSN adalah bahwa Kitab Suci tidak berdiri sendirian terlepas dari kehidupan Gereja.
Dei Verbum mengajarkan bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari sumber ilahi yang sama dan bersama-sama membentuk satu khazanah suci Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja.

Karena itu, membaca Kitab Suci dalam tradisi Katolik berarti membaca:
Kitab Suci dalam iman Gereja, dalam kehidupan liturgi, dalam Tradisi, dan dalam terang ajaran Gereja.

Hal ini penting terutama pada zaman digital, ketika setiap orang dapat dengan mudah menemukan berbagai tafsiran Alkitab di internet.

Tidak semua tafsiran memiliki dasar yang sama. Karena itu, umat perlu dibekali kemampuan untuk membaca Kitab Suci secara bertanggung jawab.

10. BKSN sebagai Gerakan Pertobatan

Pada akhirnya, BKSN bukan sekadar program pendidikan iman.
Ia seharusnya menjadi gerakan pertobatan.
Sabda Allah memiliki daya untuk menunjukkan kepada manusia siapa dirinya di hadapan Allah.
Ketika membaca Injil Matius, umat dapat menemukan bahwa Yesus terus-menerus memanggil manusia kepada pertobatan, iman, kasih, keadilan, pengampunan, dan kehidupan sebagai murid.
Karena itu, pertanyaan penting selama BKSN bukan hanya:
“Berapa bab Alkitab yang sudah saya baca?”
Tetapi:
“Apakah saya semakin menyerupai Kristus?”
Bukan hanya:
“Apa yang saya ketahui mengenai Yesus?”
Tetapi:
“Apakah saya semakin mengikuti Yesus?”
Bukan hanya:
“Apakah saya memahami Sabda?”
Tetapi:
“Apakah Sabda itu sudah menjadi dasar kehidupan saya?”

11. Dari Sabda Menuju Perutusan

Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa tidak hanya mengajar murid-murid-Nya untuk kepentingan mereka sendiri.
Ia mengutus mereka.
Karena itu, BKSN harus memiliki dimensi misioner.
Umat yang telah mendengar Sabda dipanggil untuk membagikan Sabda melalui kehidupan.

Seorang ayah dapat mewartakan Injil dengan kesetiaan kepada keluarganya.
Seorang ibu dapat mewartakan Injil melalui kasih dan pengampunan.
Seorang guru dapat mewartakan Injil melalui pendidikan yang manusiawi.
Seorang anak muda dapat mewartakan Injil melalui persahabatan yang sehat dan keberanian melawan budaya kebencian.
Seorang pengusaha dapat mewartakan Injil melalui kejujuran.
Seorang pekerja dapat mewartakan Injil melalui tanggung jawab.
Seorang pengguna media sosial dapat mewartakan Injil dengan menyebarkan kebenaran dan menolak fitnah.

Dengan demikian, pewartaan Sabda tidak hanya terjadi dari mimbar gereja. Sabda menjadi nyata melalui kehidupan umat.

12. Tantangan BKSN 2026 di Era Digital

BKSN 2026 berlangsung dalam konteks masyarakat yang semakin digital.
Ini merupakan tantangan sekaligus peluang.

Di satu sisi, umat dikelilingi begitu banyak informasi. Tidak semua informasi benar. Tidak semua informasi membangun. Bahkan banyak kata-kata yang viral tetapi tidak memiliki kedalaman.

Dalam konteks seperti ini, Sabda Allah menjadi semakin penting.
Paus Leo XIV dalam katekesen Februari 2026 menyoroti kenyataan bahwa manusia hidup di tengah begitu banyak kata, tetapi tidak semuanya memiliki daya untuk menyentuh makna terdalam kehidupan. Ia menegaskan bahwa Sabda Allah memberikan jawaban terhadap kehausan manusia akan makna dan kebenaran.

Di sisi lain, teknologi digital dapat menjadi sarana pewartaan yang sangat efektif.
BKSN dapat memanfaatkan:
• video pendek mengenai Injil;
• renungan harian;
• podcast Kitab Suci;
• grup WhatsApp lingkungan;
• konten Instagram dan media sosial lainnya;
• kelas Kitab Suci daring;
• infografis;
• bahan pendalaman digital;
• dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.
Namun, teknologi tetap merupakan sarana. Pusat BKSN bukan teknologi, melainkan Sabda Allah dan Kristus yang diwartakannya.

13. Buah yang Diharapkan dari BKSN 2026

Jika BKSN sungguh-sungguh dihayati, ada beberapa buah yang diharapkan muncul dalam kehidupan umat.
Pertama, umat semakin mencintai Kitab Suci.
Kedua, umat semakin mengenal Yesus Kristus.
Ketiga, umat semakin memahami iman Katolik.
Keempat, umat memiliki kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci.
Kelima, keluarga semakin terbiasa berdoa dengan Kitab Suci.
Keenam, lingkungan dan komunitas menjadi tempat berbagi pengalaman iman.
Ketujuh, umat mampu menghubungkan Sabda dengan persoalan kehidupan.
Kedelapan, umat mengalami pertobatan dan pembaruan hidup.
Kesembilan, umat menjadi lebih siap mewartakan Injil.
Kesepuluh, Gereja semakin menjadi komunitas yang hidup dari Sabda.
Dengan demikian, keberhasilan BKSN tidak diukur dari seberapa meriah kegiatan yang diselenggarakan, tetapi dari seberapa dalam Sabda Allah berakar dalam kehidupan umat.

Penutup

Bulan Kitab Suci Nasional 2026 merupakan kesempatan berharga bagi Gereja Katolik di Indonesia untuk kembali ke pusat kehidupan iman: Sabda Allah yang membawa kita kepada Yesus Kristus.

Tema “Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius” mengajak umat untuk memandang Yesus bukan hanya sebagai tokoh yang dikagumi, tetapi sebagai Guru yang harus didengarkan dan diikuti.

Yesus mengajar dengan kuasa karena hidup-Nya sendiri menjadi kesaksian atas apa yang Ia wartakan. Ia mengajarkan kasih dan mengasihi. Ia mengajarkan pengampunan dan mengampuni. Ia mengajarkan pelayanan dan menyerahkan hidup-Nya untuk manusia. Ia mengajarkan Kerajaan Allah dan menghadirkannya melalui seluruh kehidupan-Nya.

Karena itu, BKSN 2026 seharusnya menjadi perjalanan dari mengenal Sabda menuju menghidupi Sabda.

Dasar biblisnya jelas: Yesus mengutus para murid untuk menjadikan semua bangsa murid dan mengajarkan mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya (Mat 28:18-20). Dasar gerejawinya juga kuat: Dei Verbum menempatkan Kitab Suci sebagai sumber kehidupan, kekuatan iman, makanan jiwa, dan dasar pewartaan Gereja. Dasar kanoniknya tampak dalam tugas Gereja untuk mewartakan Injil, pelayanan Sabda, tanggung jawab para gembala dan umat beriman, serta kewajiban menjadikan Kitab Suci sebagai dasar pewartaan dan pengajaran Kristiani.

Maka, BKSN 2026 hendaknya tidak berhenti pada satu bulan kegiatan. Ia perlu menjadi momentum untuk membangun budaya Sabda dalam Gereja: umat yang membaca Kitab Suci, merenungkannya dalam doa, memahaminya dalam iman Gereja, merayakannya dalam liturgi, menjalankannya dalam kehidupan, dan mewartakannya melalui kesaksian.

Sebab pada akhirnya, tujuan terdalam membaca Kitab Suci bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Allah, melainkan berjumpa dengan Allah, mengenal Kristus, menjadi murid-Nya, dan membiarkan Sabda-Nya mengubah kehidupan kita.

Dengan semangat BKSN 2026, pertanyaan yang pantas dibawa oleh setiap umat adalah:
Apakah saya sungguh mendengarkan Yesus, Sang Guru yang penuh kuasa?

Dan lebih jauh lagi:
Apakah setelah mendengarkan Sabda-Nya, saya sungguh menjadi murid yang melakukannya?

Di situlah Sabda Allah tidak lagi hanya menjadi teks yang dibaca, tetapi menjadi kehidupan yang dijalani.***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button