Pendidikan

Orang Tua SMANDAR Tegaskan Komitmen: Enam Hari Belajar Tetap Jadi Pilihan

Notes:
“Orang tua/wali menyetujui keringanan penuh atau 100 persen bagi siswa yatim piatu. Adapun keringanan 50 persen diberikan bagi siswa yatim, piatu, siswa yang orang tuanya menderita sakit parah, serta siswa yang memiliki saudara kandung yang masih aktif bersekolah di SMA Negeri 2 Banjar.”

Banjar, SINARTIMUR.co.id — Aula Mini SMA Negeri 2 Banjar, Sabtu (5/9/2026), bukan sekadar menjadi tempat berkumpulnya orang tua dan sekolah. Di ruangan itu, suara kekhawatiran, harapan, hingga komitmen untuk mendampingi pendidikan siswa dipertemukan dalam satu forum.

Rapat Koordinasi Orang Tua/Wali Siswa SMA Negeri 2 Banjar (SMANDAR) yang berlangsung pukul 08.30–11.15 WITA menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Salah satu yang paling mendapat perhatian ialah keputusan mempertahankan pola enam hari belajar, di tengah usulan peralihan menjadi lima hari belajar.

Humas SMANDAR melaporkan bahwa forum yang dihadiri hampir 36 persen orang tua/wali siswa tersebut berlangsung dinamis. Hampir setiap agenda pembahasan mendapat tanggapan, pertanyaan, ataupun usulan dari peserta.

Ketua Komite SMA Negeri 2 Banjar, Drs. Putu Arimbawa, M.Pd., dalam arahannya menegaskan peran komite sebagai mitra strategis sekolah sekaligus jembatan aspirasi orang tua/wali siswa. “Posisi komite sebagai mitra strategis sekolah sekaligus jembatan aspirasi orang tua/wali siswa,” ucap Arimbawa.

Rapat kemudian dipimpin Kepala SMA Negeri 2 Banjar, Made Mahendra Eka Purusa, S.Pd. Pembahasan berlangsung terbuka hingga sejumlah keputusan dapat disepakati bersama.

Masih menurut laporan Humas SMANDAR, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, rapat koordinasi kali ini tidak digelar sebagai bagian dari kegiatan pembagian rapor. Forum ditempatkan sebagai agenda tersendiri agar sekolah, komite, dan orang tua memiliki ruang lebih luas untuk membicarakan persoalan pendidikan secara langsung.

Orang Tua Pilih Enam Hari Belajar

Dilaporkan bahwa isu perubahan pola belajar menjadi lima hari menjadi salah satu pembahasan paling hangat.

Hampir seluruh orang tua/wali yang menyampaikan pandangan mengungkapkan kekhawatiran terhadap penerapan pembelajaran hingga sore hari.

Kekhawatiran pertama berkaitan dengan kondisi fisik dan mental siswa. Durasi belajar yang lebih panjang dinilai berpotensi menambah kelelahan siswa.

“Kekhawatiran kedua menyangkut konsekuensi ekonomi bagi keluarga. Waktu belajar yang lebih panjang berpotensi meningkatkan kebutuhan bekal dan pengeluaran harian siswa,” lapor Humas SMANDAR mengutip kesepakatan forum.

Sementara itu, persoalan sarana dan prasarana sekolah juga menjadi perhatian. Orang tua menilai kesiapan fasilitas perlu menjadi pertimbangan, termasuk fasilitas untuk kegiatan lapangan dan toilet siswa, apabila aktivitas belajar berlangsung hingga sore.

“Setelah mendengarkan berbagai pandangan tersebut, forum akhirnya menyepakati bahwa SMA Negeri 2 Banjar tetap menerapkan pola enam hari belajar,” tulis Humas SMANDAR dalam rilisnya.

Keputusan itu tidak diposisikan sebagai keputusan yang tertutup. Forum membuka ruang evaluasi pada masa mendatang, terutama apabila kesiapan sarana dan prasarana sekolah meningkat serta terdapat perkembangan regulasi yang mendukung perubahan pola pembelajaran.

DPM Disepakati, Siswa Rentan Mendapat Keringanan

Selain pola pembelajaran, forum juga menyepakati partisipasi orang tua melalui Sumbangan Dana Partisipasi Masyarakat (DPM) yang disetorkan secara mandiri ke rekening bersama Komite Sekolah.

Kesepakatan tersebut sekaligus dibarengi semangat subsidi silang. Orang tua/wali menyetujui keringanan penuh atau 100 persen bagi siswa yatim piatu. Adapun keringanan 50 persen diberikan bagi siswa yatim, piatu, siswa yang orang tuanya menderita sakit parah, serta siswa yang memiliki saudara kandung yang masih aktif bersekolah di SMA Negeri 2 Banjar.

Skema tersebut menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam mendukung sekolah tidak semata-mata diletakkan pada kemampuan finansial, tetapi juga mempertimbangkan kondisi keluarga siswa.

Disiplin Tidak Berhenti pada Penindakan

Dalam laporan Humas SMANDAR, persoalan disiplin dan ketertiban siswa juga menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Sekolah dan orang tua menyepakati pola pembinaan yang dilakukan secara bertahap, mulai dari peringatan, pendampingan dan pembinaan, hingga penindakan.

Yang mendapat penekanan ialah keterlibatan orang tua sebelum persoalan mencapai tahap penindakan.

Orang tua/wali menyatakan kesediaannya terlibat langsung dalam proses pendampingan dan pembinaan. Dengan demikian, persoalan kedisiplinan tidak semata-mata dibebankan kepada sekolah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.

Komunikasi Jadi Kunci

Forum juga menegaskan pentingnya komunikasi aktif antara orang tua dan sekolah.

“Orang tua/wali didorong untuk membangun koordinasi secara langsung dengan guru wali, wali kelas, maupun Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Setiap persoalan yang berkaitan dengan siswa diharapkan terlebih dahulu dikomunikasikan melalui jalur yang tersedia di lingkungan sekolah,” lapor Humas SMANDAR dalam rilisnya lagi.

Kesepakatan untuk mengedepankan komunikasi internal sekaligus menghindari penyampaian informasi kepada pihak ketiga menjadi bagian dari komitmen bersama.

Pada akhirnya, rapat koordinasi tersebut tidak hanya menghasilkan daftar keputusan. Forum menjadi penegasan bahwa pendidikan siswa merupakan pekerjaan bersama.

Sekolah memiliki tanggung jawab dalam menyediakan layanan pendidikan dan pembinaan. Komite menjadi mitra sekaligus penghubung aspirasi. Sementara orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak, termasuk ketika persoalan akademik, kedisiplinan, maupun kebutuhan siswa muncul.

Dari Aula Mini SMA Negeri 2 Banjar, Sabtu pagi itu, satu pesan mengemuka: keberhasilan pendidikan tidak cukup dibangun oleh sekolah seorang diri. Ia membutuhkan sekolah, orang tua, dan komite yang berjalan dalam satu arah.

Editor: Francelino
Sumber: Humas SMANDAR

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button