Ekonomi & BisnisNasional

Tolak Wacana Bali Jadi Pusat Keuangan Dunia, Dr. Made Cantiari: “Jangan Sampai Orang Bali Menjadi Penonton di Tanah Sendiri”

Quotation:
“Kita harus belajar dari berbagai pengalaman di dunia. Jangan sampai masyarakat Bali hanya menjadi penonton di tanah sendiri karena tanah-tanahnya dikuasai pihak luar. Yang harus dijaga adalah warisan budaya, adat, dan identitas Bali untuk anak cucu,” ucap Cantiari.

Denpasar, SINARTIMUR.co.id — Tokoh perempuan Bali, Dr. Dra. Ni Made Cantiari, M.Si., menyatakan penolakannya terhadap wacana menjadikan Bali sebagai Pusat Keuangan Dunia. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali memang harus menjadi prioritas, namun tidak harus ditempuh melalui konsep yang dinilai berpotensi mengubah karakter dan jati diri Pulau Dewata.

“Ekonomi masyarakat Bali memang perlu terus ditingkatkan agar rakyat semakin sejahtera. Tetapi jika Bali dijadikan Pusat Keuangan Dunia, saya tidak setuju. Bali sudah memiliki pusat keuangan melalui Bank Indonesia. Yang lebih penting adalah menjaga tanah, adat, dan budaya Bali,” ujar Made Cantiari dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026).

Mantan Camat Buleleng itu mengaku memiliki kekhawatiran apabila kebijakan tersebut berdampak pada semakin besarnya penguasaan tanah oleh pihak luar. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat masyarakat lokal kehilangan ruang hidup di daerahnya sendiri.

“Kita harus belajar dari berbagai pengalaman di dunia. Jangan sampai masyarakat Bali hanya menjadi penonton di tanah sendiri karena tanah-tanahnya dikuasai pihak luar. Yang harus dijaga adalah warisan budaya, adat, dan identitas Bali untuk anak cucu,” katanya.

Made Cantiari juga mengaitkan pandangannya dengan pengalaman pribadinya saat bertugas di wilayah Timor Timur pada 1985. Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk kepedulian terhadap pentingnya menjaga keutuhan bangsa dan identitas daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain aktif sebagai tokoh masyarakat, Made Cantiari saat ini menjabat sebagai Ketua Korps Resimen Mahasiswa (Menwa) Ugracena, Ketua I Pemuda Panca Marga (PPM) Provinsi Bali, serta Ketua I Forum Bela Negara (FBN) Provinsi Bali. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai kebangsaan harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi.

Menurutnya, masyarakat Bali selama ini telah mampu membangun kehidupan melalui sektor pariwisata, seni, budaya, serta kearifan lokal. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga tanah Bali sebagai aset yang tidak tergantikan.

“Sudah saatnya kita bersuara lantang. Tolong jaga Tanah Bali. Budaya dan adat adalah kekuatan utama Bali yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Cantiari yang kakak kandung Letjen TNI Nyoman Cantiasa itu.
Made Cantiari, yang pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, juga dikenal aktif dalam pendidikan bela negara. Sejak 2004, melalui kerja sama Korps Menwa Ugracena, Pemuda Panca Marga, dan Forum Bela Negara, ia menyebut telah menginisiasi pelatihan bela negara secara swadaya kepada sekitar 17.000 peserta yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan masyarakat di Bali.

Selain itu, ia mengaku membina ratusan anak asuh dengan biaya pribadi serta telah memimpin puluhan organisasi kemasyarakatan di tingkat kabupaten maupun provinsi sejak dekade 1980-an.

Sebagai peserta terbaik dalam Diklat Lemhannas RI tahun 2022, Made Cantiari juga mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap warga negara asing yang datang ke Bali.

Ia menyarankan agar dilakukan penyaringan terhadap wisatawan asing yang masuk ke Bali, terutama terkait dugaan penyalahgunaan visa wisata untuk membeli tanah atau menjalankan usaha.

“Pengawasan perlu diperkuat agar setiap orang asing yang datang benar-benar mematuhi aturan yang berlaku. Bali harus tetap terbuka, tetapi kepentingan masyarakat lokal juga harus dilindungi,” katanya.

Di bidang perlindungan anak, Made Cantiari yang juga menjabat Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) mengajak para orang tua memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan fisik, mental, etika, dan moral anak sebagai bekal menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga empat konsensus dasar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Made Cantiari, pembangunan Bali harus tetap mengutamakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, perlindungan masyarakat adat, dan kepentingan nasional sehingga kemajuan yang dicapai tidak mengorbankan identitas Pulau Dewata.

Writer: Francelino
Editor: Francelino

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button