Refleksi Minggu 8 November 2026, KEBIJAKAN: Kebijaksanaan dalam Terang Iman dan Kasih Tuhan

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Mantan Dosen Seminario Menor Nossa Senhora de Fátima, Balide, Dili
DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, setiap manusia dihadapkan pada berbagai pilihan dan keputusan. Tidak jarang kita harus menentukan sikap di tengah perbedaan pendapat, menghadapi persoalan, serta mengambil keputusan yang berdampak bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam situasi seperti inilah, kita membutuhkan kebijakan atau kebijaksanaan yang berlandaskan iman, kasih, dan kehendak Tuhan.
Dalam kehidupan Gereja Katolik, kebijaksanaan bukan sekadar kemampuan untuk berpikir atau mengambil keputusan dengan benar, tetapi juga kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik berdasarkan nilai-nilai Injil. Kebijaksanaan mengajak kita untuk tidak bertindak hanya berdasarkan emosi, kepentingan pribadi, atau keinginan sesaat, melainkan dengan hati yang tulus, pikiran yang jernih, dan iman yang kuat.
Melalui perayaan Ekaristi hari ini, kita diajak untuk belajar dari Tuhan Yesus, Sang Sumber Kebijaksanaan sejati. Yesus mengajarkan bahwa setiap keputusan dan tindakan hendaknya dilandasi oleh kasih, keadilan, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Kebijaksanaan sejati bukanlah tentang siapa yang paling pintar atau paling berkuasa, melainkan siapa yang mampu menggunakan akal budi dan hatinya untuk membawa kebaikan bagi banyak orang.
Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang bijaksana dalam keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, maupun dalam kehidupan menggereja. Kita perlu belajar mendengarkan sebelum berbicara, berpikir sebelum bertindak, dan berdoa sebelum mengambil keputusan. Dengan demikian, setiap langkah hidup kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Marilah kita memohon rahmat Tuhan agar senantiasa dianugerahi kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Semoga setiap keputusan yang kita ambil selalu berpedoman pada firman Tuhan, membawa kedamaian, menumbuhkan persaudaraan, dan mencerminkan kasih Kristus kepada sesama.
“Tuhan, anugerahkanlah kepada kami hati yang bijaksana, agar kami mampu memilih yang benar, melakukan yang baik, dan hidup seturut kehendak-Mu.” Amin.
Belajar Bersikap Bijak di Tengah Gejolak Bangsa
Tema “KEBIJAKSANAAN” ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat berbagai peristiwa yang sedang terjadi di tengah kehidupan bangsa Indonesia. Dugaan penyadapan komunikasi terhadap Presiden Prabowo Subianto, yang kini memasuki proses hukum, serta kehadiran mantan Presiden Joko Widodo sebagai saksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 5 November 2026, menjadi perhatian dan bahan perbincangan masyarakat.
Berbagai peristiwa tersebut memunculkan beragam tanggapan publik. Ada yang memberikan dukungan, ada yang mempertanyakan, ada pula yang menyampaikan kritik dan penilaian melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, kita perlu bertanya: sudahkah kita bersikap bijaksana dalam menyikapi persoalan bangsa?
Kebijaksanaan mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, dan tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling membenci. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk mencintai kebenaran, menghormati martabat setiap manusia, serta menjunjung tinggi keadilan.
Kasus dugaan penyadapan mengingatkan kita bahwa privasi, kejujuran, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan nilai penting dalam kehidupan bersama. Sementara itu, kehadiran seorang mantan presiden di ruang pengadilan sebagai saksi mengingatkan kita akan pentingnya proses hukum yang harus dihormati oleh setiap warga negara, tanpa memandang jabatan maupun kedudukan.
Kita juga perlu menyadari bahwa menjadi bijaksana bukan berarti harus diam terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, kebijaksanaan mengajak kita berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang santun, menyampaikan kritik tanpa kebencian, dan menuntut keadilan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Yesus mengajarkan bahwa kebenaran harus berjalan bersama kasih. Karena itu, umat Katolik hendaknya tidak ikut memperkeruh suasana dengan fitnah, ujaran kebencian, atau penghakiman sepihak. Kita perlu menjadi pembawa kesejukan di tengah perbedaan dan menjadi suara hati nurani yang mengingatkan bangsa agar tetap menjunjung tinggi hukum, keadilan, dan persaudaraan.
Akhirnya, kebijaksanaan adalah kemampuan untuk melihat persoalan dengan pikiran yang jernih, hati yang bersih, dan iman yang teguh. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara dan berdebat, tetapi juga pribadi-pribadi yang jujur, adil, rendah hati, dan mampu mengambil keputusan demi kepentingan bersama.
Marilah kita berdoa agar para pemimpin bangsa, aparat penegak hukum, dan seluruh masyarakat Indonesia dianugerahi kebijaksanaan dari Tuhan. Semoga kebenaran ditegakkan, keadilan diwujudkan, dan persatuan bangsa tetap terpelihara.
Sebab, bangsa yang bijaksana bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi persoalan, melainkan bangsa yang mampu menyelesaikan persoalannya dengan kebenaran, keadilan, dan kasih. Amin.***
