Opini

Sumpah Pemuda di Tengah Sulitnya Ekonomi: Saatnya Anak Muda Bangkit dan Bergerak, Tidak Omon-Omon Saja

Oleh; Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng
-Alumni San Diego State University (SDSU), San Diego, California, USA

SETIAP 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Momentum ini bukan sekadar mengenang ikrar bersejarah yang lahir pada 1928, melainkan juga menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda.

Namun, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini hadir di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah. Harga kebutuhan hidup yang terus membebani masyarakat, terbatasnya lapangan pekerjaan, persaingan dunia kerja yang semakin ketat, hingga kekhawatiran terhadap masa depan membuat banyak anak muda harus berjuang lebih keras untuk meraih kehidupan yang layak.

Dalam situasi seperti ini, apa makna Sumpah Pemuda bagi generasi muda?

Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai panggilan untuk bangkit, bukan sekadar seremoni tahunan. Semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 perlu diterjemahkan menjadi keberanian menghadapi tantangan zaman, kreativitas menciptakan peluang, serta kepedulian terhadap nasib sesama.

Anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika persoalan ekonomi membelit masyarakat. Mereka perlu mengambil peran melalui pendidikan, kewirausahaan, pengembangan keterampilan, inovasi teknologi, serta gerakan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Di tengah terbatasnya kesempatan kerja, misalnya, generasi muda perlu didorong untuk tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga berani menciptakan lapangan pekerjaan. Potensi ekonomi lokal, pertanian, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan usaha mikro dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk berinovasi sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Namun, tanggung jawab menghadapi persoalan ekonomi tidak boleh dibebankan kepada generasi muda semata. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan juga harus membuka akses pendidikan yang berkualitas, memperluas kesempatan kerja, mendukung usaha anak muda, serta memastikan kebijakan ekonomi berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Sebab, semangat pantang menyerah anak muda akan sulit berkembang apabila tidak didukung oleh kesempatan yang adil dan kebijakan yang berpihak pada masa depan mereka.

Lebih dari itu, Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan bukan berarti menutup mata terhadap persoalan bangsa. Justru, kecintaan kepada Indonesia harus diwujudkan melalui keberanian menyampaikan kritik, mengawal kebijakan publik, melawan korupsi, dan memperjuangkan keadilan sosial secara bertanggung jawab.

Di tengah situasi ekonomi yang sulit, nasionalisme tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Bekerja dengan jujur, menciptakan lapangan kerja, membantu masyarakat yang membutuhkan, menjaga persatuan, dan berani menyuarakan kebenaran merupakan bagian dari pengamalan semangat Sumpah Pemuda.

Kini, hampir satu abad setelah ikrar 1928, tantangan generasi muda memang berbeda. Jika dahulu para pemuda berjuang melawan penjajahan untuk mewujudkan kemerdekaan, hari ini perjuangan itu berlanjut dalam bentuk lain: melawan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, pengangguran, dan ketidakadilan.

Karena itu, Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat keyakinan bahwa kesulitan ekonomi bukan alasan untuk kehilangan harapan, melainkan dorongan untuk membangun solidaritas dan mencari jalan keluar bersama.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga berintegritas, kritis, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial.

Pada akhirnya, makna Sumpah Pemuda bukan terletak pada seberapa meriah peringatannya, melainkan pada seberapa besar semangatnya mampu menggerakkan perubahan.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diwariskan generasi terdahulu, tetapi juga oleh keberanian generasi muda hari ini untuk mengambil tanggung jawab dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi semua.

Generasi muda saat ini harus berani melakukan aksi daripada hanya omon-omon seperti pemimpin bangsa ini…

Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu INDONESIA!

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button