Paus Leo XIV Disambut Heboh, Bukti Kebangkitan Kembali Katolik di Perancis?

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng
-Mantan Dosen Seminario Menor Nossa Senhora de Fátima, Balide, Dili
-Alumni San Diego State University (SDSU), San Diego, California, USA
DUNIA mengakui bahwa setiap kunjungan pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus, ke suatu negara atau wilayah selalu disambut heboh dan secara rohani merubah pandangan setiap komunitas yang dikunjungi.
Begitupula saat Bapak Suci Paus Leo XIV melakukan kunjungan ke negara Perancis, 25–28 September 2026. Ratusan ribu warga Perancis tumpah ruah menyambut kedatangan Paus Leo XIV.
Ya—euforia besar menyambut Paus Leo XIV di Prancis memang menunjukkan adanya energi baru dalam sebagian Katolik Prancis, tetapi terlalu jauh jika langsung disimpulkan bahwa itu berarti kebangkitan kembali Katolik Prancis secara keseluruhan. Data yang tersedia justru menunjukkan gambaran yang lebih menarik: praktik Katolik lama terus menurun, sementara bentuk-bentuk religiositas baru—terutama di kalangan anak muda dan para calon baptis dewasa—sedang tumbuh.
1. Apa makna kunjungan Paus bagi umat Katolik Prancis?
Kunjungan 25–28 September 2026 ini sangat besar secara simbolis. Sekitar 700.000–800.000 orang menghadiri Misa terbuka di Paris, sementara sekitar 80.000 anak muda memenuhi Stade de France untuk kegiatan doa.
Bagi umat Katolik, setidaknya ada tiga makna.
Pertama, rasa “kami masih ada”.
Dalam masyarakat Prancis yang sangat sekuler, umat Katolik biasanya tidak menjadi kelompok yang sangat terlihat dalam kehidupan publik. Kehadiran ratusan ribu orang di jalan-jalan Paris memberikan pengalaman kolektif bahwa iman Katolik masih mempunyai massa sosial dan mampu tampil secara terbuka.Menariknya, Paus Leo sendiri dalam homilinya justru mendorong umat Katolik agar tidak menyimpan iman hanya untuk diri sendiri, melainkan membawanya keluar dalam kehidupan sosial.
Kedua, kunjungan ini memberi legitimasi dan kepercayaan diri kepada generasi muda Katolik.
Ada fenomena yang tidak boleh diabaikan: jumlah calon baptis dewasa di Prancis meningkat tajam. Konferensi Waligereja Prancis mencatat 13.234 baptis dewasa pada 2026, naik 28% dari 2025 dan lebih dari tiga kali lipat dibanding 2016. Yang sangat menarik, kelompok usia 18–25 tahun merupakan kelompok terbesar di antara calon baptis dewasa. Jadi, di balik gambaran Prancis yang semakin sekuler, memang terdapat kantong-kantong kebangkitan religius baru.
Ketiga, Paus datang bukan hanya untuk merayakan keberhasilan, tetapi juga untuk menghadapi luka Gereja.
Kunjungan itu mencakup pertemuan dengan para penyintas kekerasan seksual oleh anggota klerus. Jadi pesan kepada umat bukan sekadar “Gereja sedang bangkit”, tetapi juga bahwa Gereja harus melakukan pertobatan, penyembuhan dan membangun kembali kepercayaan.
2. Tetapi apakah ini benar-benar “kebangkitan Katolik”?
Belum bisa dikatakan demikian jika “kebangkitan” berarti kembalinya Katolik sebagai agama mayoritas yang dipraktikkan secara rutin.
Di sinilah kita harus membedakan antusiasme terhadap Paus dengan perubahan struktur religius masyarakat.
Data INSEE berdasarkan survei 2019–2020 menunjukkan bahwa 51% penduduk usia 18–59 tahun di Prancis metropolitan menyatakan tidak beragama. Sekitar 29% menyatakan diri Katolik, tetapi hanya sekitar 8% dari umat Katolik yang secara teratur pergi ke tempat ibadah.
Survei Ifop 2025 juga menunjukkan bahwa hanya 26% orang Prancis mengatakan mereka menghadiri Misa setidaknya beberapa kali setahun, turun dari 34% pada 2012 dan 68% pada 1961.
Jadi ada paradoks: Jumlah orang yang datang melihat Paus bisa sangat besar, sementara jumlah orang yang datang ke gereja setiap minggu tetap kecil.
Keduanya tidak bertentangan.
Orang bisa datang karena iman, tetapi juga karena identitas, budaya, nostalgia, pengalaman komunitas, ketertarikan terhadap Paus, atau karena menganggap kunjungan tersebut sebagai peristiwa nasional yang bersejarah.
Bahkan survei Ifop yang dilakukan menjelang kunjungan menunjukkan bahwa hanya 26% masyarakat Prancis yang memperkirakan kunjungan Paus akan “memberi kehidupan baru” kepada Gereja Prancis; angka itu menjadi 36% di kalangan Katolik dan 41% di kalangan Katolik yang aktif berpraktik. Sebagian masyarakat juga menganggap kunjungan tersebut tidak akan mempunyai konsekuensi khusus.
Jadi lebih tepat menyebutnya “kebangkitan energi Katolik” daripada “kebangkitan kembali Katolik Prancis”—setidaknya berdasarkan data yang tersedia sekarang.
3. Lalu bagaimana dengan umat Muslim Prancis?
Ini bagian yang menurut saya justru sangat menarik.
Kunjungan Paus tidak hanya menjadi urusan Katolik. Respons dari institusi Muslim Prancis relatif positif dan menekankan dialog.
Conseil Français du Culte Musulman (CFCM) menyambut kunjungan Leo XIV dan secara khusus memuji pesannya mengenai martabat manusia, kebebasan, perdamaian, dialog antarmasyarakat dan penghargaan terhadap keberagaman.
Lebih menarik lagi, Grande Mosquée de Paris secara khusus menyambut Paus dan meminta masjid-masjid yang berada dalam jaringannya menyampaikan khotbah mengenai kunjungan tersebut. Mereka menekankan bahwa perbedaan agama tidak seharusnya menjadi “batas yang tidak dapat ditembus” dan bahwa umat Muslim serta Kristen mempunyai tanggung jawab untuk memperkuat apa yang menyatukan manusia.
Ada pula pertemuan lintas agama di Metz pada 28 September, di mana Leo XIV bertemu para pemimpin agama dan menyerukan agar agama menjadi pembawa perdamaian, persaudaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan demikian, bagi banyak Muslim Prancis, Paus bukan terutama dilihat sebagai “pemimpin agama yang sedang mengembalikan Katolik”, melainkan juga sebagai tokoh agama global yang mempunyai kapasitas untuk berbicara mengenai perdamaian, martabat manusia dan hubungan antaragama.
4. Ada paradoks yang sangat Prancis di sini
Menurut saya, inilah aspek paling menarik dari kunjungan Leo XIV. Prancis adalah negara dengan tradisi laïcité yang kuat. Negara secara resmi netral terhadap agama dan tidak boleh mengistimewakan satu agama. Namun pada saat yang sama, sejarah Prancis sangat dalam terkait dengan Katolik: katedral, biara, seni, kalender budaya, sejarah kerajaan, bahkan identitas sejumlah daerah.
Karena itu, ketika 700.000–800.000 orang memenuhi pusat Paris untuk Misa Paus, yang muncul bukan sekadar fenomena keagamaan. Ia juga merupakan fenomena budaya dan identitas.
AP mencatat bahwa penggunaan Champs-Élysées dan Place de la Concorde untuk Misa raksasa memberikan visibilitas luar biasa kepada Katolik dalam ruang publik Prancis yang secara resmi sekuler.
Tetapi itu tidak berarti laïcité sedang runtuh. Justru kerangka laïcité memungkinkan seseorang bebas beragama sekaligus bebas tidak beragama. Pemerintah dapat memfasilitasi keamanan sebuah acara agama tanpa berarti negara menjadi Katolik.
5. Jadi, apakah sedang terjadi “kebangkitan”?
Saya akan merumuskannya begini: Ya, ada tanda-tanda kebangkitan tertentu dalam Katolik Prancis. Tetapi bukan kebangkitan dalam bentuk lama. Yang tampaknya sedang terjadi lebih mirip rekomposisi Katolik Prancis.
Dulu:
lahir Katolik → dibaptis → sekolah Katolik → menikah secara Katolik → pergi Misa → anak dibaptis.
Sekarang semakin banyak yang berbentuk:
hidup dalam masyarakat sekuler → mengalami krisis atau pencarian makna → menemukan kembali iman → mengikuti komunitas → meminta baptis ketika dewasa.
Data survei terhadap 1.450 calon baptis dewasa pada 2026 cukup menarik: sekitar 40% mengatakan perjalanan menuju baptis dipicu oleh suatu pengalaman sulit yang memunculkan pencarian makna, sementara sekitar sepertiga melaporkan pengalaman spiritual yang kuat.
Artinya, agama tidak selalu diwariskan lagi; sebagian justru ditemukan kembali. Itulah mungkin yang paling penting dari fenomena Leo XIV di Prancis.
6. Dan di sinilah umat Muslim juga menjadi bagian dari cerita
Ada satu fakta sosiologis yang menarik: sekularisasi Prancis tidak berarti semua agama mengalami penurunan dengan pola yang sama.
Dalam data INSEE, sekitar 10% penduduk usia 18–59 tahun menyatakan diri Muslim. Lebih dari 20% Muslim dalam survei tersebut secara rutin mengunjungi tempat ibadah, dibanding 8% Katolik. Bahkan 76% Muslim mengatakan agama cukup atau sangat penting bagi mereka, dibanding 27% Katolik.
Karena itu, muncul situasi yang cukup unik: Katolik Prancis sedang mencari cara untuk menjadi minoritas yang tetap hidup dan terlihat, sementara Islam Prancis sedang mencari cara untuk menjadi bagian yang diakui sepenuhnya dari masyarakat Prancis yang sekuler.
Kunjungan Paus mempertemukan dua proses tersebut. Dan respons Grande Mosquée de Paris serta CFCM menunjukkan bahwa sebagian pemimpin Muslim melihat kesempatan ini bukan sebagai kompetisi “Katolik versus Islam”, tetapi sebagai kesempatan memperkuat dialog, pengakuan timbal balik dan kehidupan bersama.
Kesimpulan
Jadi, kerumunan besar menyambut Leo XIV adalah bukti kuat bahwa Katolik belum “mati” di Prancis. Ini bukti bahwa Prancis sedang kembali menjadi negara Katolik.
Lebih tepat melihatnya sebagai tiga fenomena yang berlangsung bersamaan:
• sekularisasi tetap kuat;
• Katolik institusional lama masih mengalami kemunduran dalam praktik rutin;
• tetapi muncul energi religius baru, terutama di kalangan sebagian anak muda dan orang dewasa yang menemukan kembali iman.
Dan justru karena Prancis semakin plural—Katolik, Muslim, agama lain, dan mereka yang tidak beragama—masa depan Katolik Prancis kemungkinan bukan sekadar soal “berapa banyak orang datang ke Misa”, tetapi bagaimana Gereja menemukan bentuk baru keberadaannya dalam masyarakat plural dan sekuler.
Dalam konteks itu, sambutan Muslim Prancis terhadap Paus juga penting: ia memperlihatkan kemungkinan bahwa kebangkitan ekspresi agama tidak harus berarti pertarungan antaragama. Kunjungan Leo XIV di Metz, misalnya, secara eksplisit ditempatkan dalam kerangka dialog dan perdamaian antaragama. ***

