Berita Hoax Jadikan Komoditi Politik, Giring Opini Jatuhkan Nama Koster
Padahal Pilgub Bali Masih Jauh, Provokator Mulai Jualan Berita Basi

Quotation:
“Begitu konteks waktu hilang, publik cenderung menganggap semua yang muncul di layar sebagai kejadian aktual. Padahal bisa jadi itu hanya arsip lama yang kembali diedarkan,” demikian pandangan yang kerap disampaikan kalangan pengamat media digital.
Denpasar, SINARTIMUR.co.id – Dunia maya kembali membuktikan satu “hukum alam” yang tak tertulis: informasi lama bisa mendadak terasa baru hanya karena tanggalnya hilang dari unggahan.
Kali ini, isu lama terkait dugaan pembebasan lahan proyek Jalan Tol Mengwi–Gilimanuk kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Nama Gubernur Bali, I Wayan Koster ikut kembali muncul dalam berbagai unggahan viral, seolah peristiwa tersebut baru saja terjadi.
Padahal, pemeriksaan oleh Polda Bali melalui Ditreskrimsus terkait persoalan tersebut sudah berlangsung sejak 3 Januari 2024. Saat itu, proses yang berjalan masih berada pada tahap klarifikasi dan pemeriksaan saksi, bukan penetapan tersangka maupun proses hukum lanjutan sebagaimana dipersepsikan sebagian pengguna media sosial.
Fenomena ini kembali memperlihatkan bagaimana informasi lama dapat dengan mudah “di-restart” di ruang digital. Potongan konten yang kehilangan konteks waktu lalu dipadukan dengan narasi provokatif membuat banyak pengguna mengira isu tersebut merupakan perkembangan terbaru.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar, informasi lama tampil dengan kemasan baru. Mulai dari penggunaan caption bernada emosional hingga potongan gambar yang telah dipangkas tanpa menyertakan tahun kejadian. Akibatnya, publik yang tidak melakukan pengecekan lebih lanjut berpotensi menganggap informasi tersebut sebagai breaking news.
Pengamat komunikasi digital menilai pola seperti ini semakin sering terjadi di media sosial. Informasi lama yang diunggah ulang tanpa konteks dinilai mampu membentuk persepsi publik secara cepat, terlebih ketika isu yang diangkat berkaitan dengan tokoh politik atau proyek strategis.
“Begitu konteks waktu hilang, publik cenderung menganggap semua yang muncul di layar sebagai kejadian aktual. Padahal bisa jadi itu hanya arsip lama yang kembali diedarkan,” demikian pandangan yang kerap disampaikan kalangan pengamat media digital.
Sementara itu, penjelasan dari pihak berwenang sebelumnya juga menegaskan bahwa pemeriksaan saksi bukanlah vonis hukum. Namun di ruang digital, klarifikasi resmi sering kali kalah cepat dibanding penyebaran judul sensasional yang mudah menarik perhatian publik.
Fenomena munculnya kembali isu lama ini juga dinilai bukan kejadian tunggal. Pola serupa kerap terjadi ketika suhu politik mulai meningkat. Isu lama, tokoh lama, hingga kasus yang telah lama mereda dapat kembali menjadi perbincangan hanya karena viral di media sosial.
Di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat, publik kembali diingatkan akan pentingnya melakukan verifikasi sederhana sebelum membagikan sebuah unggahan, terutama dengan memeriksa tanggal, sumber, dan konteks informasi.
Sebab di media sosial, satu tahun bisa hilang hanya dengan satu potongan gambar, dan satu konteks dapat lenyap hanya lewat satu tombol “share”.
Writer: Francelino
Editor: Francelino



