Opini

#2 Membedah Cengkraman Gurita MBG: MBG Jadi Jaringan Kekuasaan, Masih Adakah Manfaat Bagi Siswa?

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng
-Penasehat PWI Kabupaten Buleleng
-Alumni San Diego State University (SDSU), San Diego, California-USA

PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) lahir dengan tujuan yang relatif sederhana namun penting: memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung kesehatan, pertumbuhan, dan kemampuan belajar mereka. Di tengah masih adanya persoalan gizi, stunting, serta ketimpangan ekonomi di berbagai daerah, program ini dipandang sebagai salah satu intervensi negara yang dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta didik.

Namun, seiring pelaksanaannya, muncul berbagai kritik dan kekhawatiran. Sebagian pihak menilai bahwa MBG berpotensi berkembang bukan hanya sebagai program sosial, tetapi juga sebagai jaringan kekuasaan yang melibatkan berbagai kepentingan politik, birokrasi, dan ekonomi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: jika MBG benar-benar menjadi bagian dari jaringan kekuasaan, apakah manfaatnya bagi siswa akan hilang? Ataukah manfaat tersebut tetap dapat dirasakan meskipun terdapat persoalan tata kelola?

Pertanyaan ini penting karena fokus utama seharusnya tetap berada pada siswa sebagai penerima manfaat utama program.

MBG dan Tujuan Awalnya

Secara konsep, program makan bergizi di sekolah bukanlah hal baru. Banyak negara menerapkan kebijakan serupa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Logikanya sederhana: anak yang mendapatkan gizi cukup cenderung lebih sehat, lebih fokus dalam belajar, dan memiliki peluang perkembangan yang lebih baik dibandingkan anak yang mengalami kekurangan gizi.

Dalam konteks Indonesia, MBG diharapkan mampu:
1. Mengurangi masalah kekurangan gizi pada anak.
2. Membantu keluarga berpenghasilan rendah.
3. Meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar.
4. Menumbuhkan kebiasaan makan sehat.
5. Mengurangi kesenjangan akses terhadap makanan bergizi.
Dari sisi tujuan, hampir tidak ada pihak yang menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi siswa. Perdebatan lebih banyak muncul pada cara pelaksanaan dan pengelolaan program.

Ketika Program Sosial Bersentuhan dengan Kekuasaan

Setiap program pemerintah yang melibatkan anggaran besar hampir selalu berisiko menjadi arena perebutan pengaruh. Hal ini bukan hanya terjadi pada MBG, tetapi juga pada proyek infrastruktur, bantuan sosial, hingga program kesehatan.
Kekhawatiran bahwa MBG dapat berubah menjadi jaringan kekuasaan muncul karena beberapa faktor:

1. Besarnya Anggaran
Program yang menjangkau jutaan siswa membutuhkan dana yang sangat besar. Ketika anggaran besar tersedia, berbagai pihak tentu ingin terlibat dalam rantai distribusi, mulai dari penyedia bahan pangan, jasa logistik, hingga pengelola dapur.

2. Sentralisasi Pengambilan Keputusan
Jika proses penunjukan pelaksana terlalu terpusat dan kurang transparan, peluang munculnya kelompok-kelompok yang memiliki akses khusus terhadap proyek menjadi lebih besar.

3. Potensi Politisasi
Program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat sering kali memiliki nilai politik yang tinggi. Tidak sedikit pihak yang khawatir keberhasilan program akan digunakan sebagai alat pencitraan politik tertentu.

4. Pengawasan yang Belum Optimal
Semakin luas cakupan program, semakin sulit pula melakukan pengawasan secara menyeluruh. Celah ini dapat membuka peluang bagi penyimpangan, mulai dari kualitas makanan yang menurun hingga ketidakefisienan penggunaan anggaran.

Apakah Manfaat bagi Siswa Otomatis Hilang?

Jawabannya tidak selalu.
Sebuah program dapat memiliki dua realitas sekaligus. Di satu sisi mungkin terdapat masalah tata kelola, konflik kepentingan, atau praktik yang perlu dikritisi. Namun di sisi lain, manfaat nyata bagi penerima tetap dapat berlangsung.

Misalnya, apabila seorang siswa yang sebelumnya berangkat sekolah tanpa sarapan kini mendapatkan makanan bergizi setiap hari, maka manfaat tersebut tetap nyata meskipun terdapat persoalan administratif atau politik di tingkat atas.

Karena itu, penting untuk membedakan antara:
• Manfaat program bagi siswa.
• Tata kelola program oleh pemerintah dan pelaksana.
Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Manfaat Nyata yang Masih Mungkin Dirasakan Siswa

1. Peningkatan Konsentrasi Belajar
Anak yang lapar cenderung lebih sulit berkonsentrasi. Dengan adanya makanan yang tersedia secara rutin, siswa memiliki energi yang lebih stabil selama mengikuti kegiatan belajar.

2. Dukungan bagi Keluarga Kurang Mampu
Bagi sebagian keluarga, biaya makanan harian menjadi beban yang tidak kecil. Kehadiran MBG dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga sehingga sumber daya keluarga dapat dialihkan untuk kebutuhan lain.

3. Perbaikan Status Gizi
Jika menu yang diberikan benar-benar memenuhi standar gizi, program ini berpotensi membantu mengurangi masalah kekurangan gizi dan mendukung tumbuh kembang anak.

4. Kesetaraan di Lingkungan Sekolah
Program makan bersama dapat mengurangi kesenjangan yang terlihat antara siswa dari keluarga mampu dan kurang mampu. Semua anak menerima layanan yang sama.

5. Pendidikan Gizi
Sekolah dapat memanfaatkan program ini untuk mengajarkan pola makan sehat, kebersihan makanan, dan pentingnya nutrisi bagi kesehatan.

Risiko Jika MBG Menjadi Jaringan Kekuasaan

Meskipun manfaat tetap mungkin dirasakan, risiko akan meningkat apabila kepentingan politik dan ekonomi lebih dominan daripada kepentingan siswa.

Beberapa risiko tersebut antara lain:

Penurunan Kualitas Makanan
Ketika orientasi utama bergeser menjadi keuntungan atau pembagian proyek, kualitas makanan berpotensi dikorbankan. Menu yang seharusnya bergizi dapat berubah menjadi sekadar memenuhi target distribusi.

Pemborosan Anggaran
Dana yang besar tidak selalu menghasilkan manfaat yang besar apabila pengelolaan tidak efisien. Setiap rupiah yang terbuang berarti berkurangnya sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan.

Ketergantungan pada Kelompok Tertentu
Jika pelaksanaan hanya dikuasai oleh kelompok atau jaringan tertentu, inovasi dan kompetisi sehat dapat berkurang. Akibatnya kualitas layanan sulit berkembang.

Menurunnya Kepercayaan Publik
Program sosial yang dipersepsikan sebagai alat politik dapat kehilangan dukungan masyarakat meskipun memiliki tujuan yang baik.

Mengapa Pengawasan Publik Sangat Penting?
Dalam program sebesar MBG, pengawasan bukan bertujuan untuk menggagalkan program, melainkan untuk memastikan tujuan awalnya tetap terjaga.

Pengawasan dapat dilakukan melalui:
• Transparansi penggunaan anggaran.
• Pelaporan terbuka mengenai kualitas makanan.
• Keterlibatan sekolah dan orang tua.
• Audit berkala oleh lembaga independen.
• Mekanisme pengaduan yang mudah diakses.
Semakin kuat sistem pengawasan, semakin kecil peluang program berubah menjadi alat kepentingan semata.

Menempatkan Siswa Sebagai Fokus Utama

Perdebatan mengenai politik, anggaran, dan kekuasaan memang penting. Namun, dalam diskusi mengenai MBG, siswa tidak boleh menjadi pihak yang terlupakan.

Ukuran keberhasilan program seharusnya tidak hanya dihitung dari jumlah anggaran yang terserap atau banyaknya paket makanan yang dibagikan. Yang lebih penting adalah:
• Apakah gizi siswa membaik?
• Apakah tingkat kehadiran sekolah meningkat?
• Apakah siswa lebih sehat?
• Apakah kemampuan belajar mengalami peningkatan?
• Apakah keluarga terbantu?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut positif, maka program masih memiliki manfaat yang signifikan.

Closing Statement

Kekhawatiran bahwa MBG dapat berkembang menjadi jaringan kekuasaan merupakan kritik yang sah dalam negara demokratis. Program dengan anggaran besar memang harus diawasi secara ketat agar tidak menjadi sarana kepentingan politik maupun ekonomi kelompok tertentu.

Namun demikian, kemungkinan adanya persoalan tata kelola tidak otomatis menghapus manfaat yang dapat diterima siswa. Selama makanan yang diberikan memenuhi standar gizi, distribusi berjalan baik, dan pengawasan dilakukan secara serius, siswa tetap dapat memperoleh keuntungan nyata dari program tersebut.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “apakah MBG masih bermanfaat bagi siswa?”, melainkan “bagaimana memastikan manfaat bagi siswa tetap menjadi tujuan utama, sementara risiko penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah?” Di titik inilah transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik menjadi kunci keberhasilan program.***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button