Pendidikan

Sabtu Krida SMANDAR Tak Sekadar Rutinitas, Siswa Simulasikan Penanganan Kebakaran

Quotation:
“Mitigasi bencana tidak cukup hanya dipahami. Kesiapsiagaan perli dibangun menjadi bagian dari budaya sekolah,” ucap Eka Purusa.

Banjar, SINARTIMUR.co.id — Kegiatan Sabtu Krida di SMA Negeri 2 Banjar, Bali, tidak berhenti pada aktivitas rutin. Pada Sabtu (12/9/2026), seluruh warga sekolah diajak menghadapi skenario bencana yang bisa terjadi kapan saja: kebakaran.

Melalui kegiatan Literasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bertajuk “Sosialisasi dan Simulasi Tanggap Bencana Kebakaran dan Penyelamatan”, siswa, guru, dan tenaga kependidikan mendapat pembekalan sekaligus praktik langsung penanganan kebakaran di Lapangan Upacara SMA Negeri 2 Banjar.

Kegiatan dibuka oleh Duta Literasi SMANDAR 2026. Selanjutnya, Kepala SMA Negeri 2 Banjar, Md. Mahendra Eka Purusa, S.Pd., memberikan arahan mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Menurut dia, mitigasi bencana tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Kesiapsiagaan perlu dibangun menjadi bagian dari budaya sekolah agar seluruh warga sekolah mampu bertindak cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.

“Mitigasi bencana tidak cukup hanya dipahami. Kesiapsiagaan perli dibangun menjadi bagian dari budaya sekolah,” ucap Eka Purusa.

Materi kemudian disampaikan Gede Sukayasa dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Tidak hanya menjelaskan langkah penanganan kebakaran, narasumber juga memperagakan teknik pemadaman api yang dapat diterapkan dalam kondisi darurat.

Dua metode diperkenalkan kepada peserta, yakni penggunaan handuk basah sebagai cara sederhana dan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai metode pemadaman yang lebih modern.

Salah satu simulasi yang menjadi perhatian peserta adalah penanganan kebakaran akibat kebocoran gas elpiji. Skenario tersebut dipilih karena berkaitan erat dengan potensi kebakaran yang dapat muncul di lingkungan rumah tangga.

Peserta kemudian diberi kesempatan mempraktikkan langsung teknik pemadaman. Siswa, guru, dan pegawai secara bergantian mencoba menggunakan handuk basah maupun mengoperasikan APAR di bawah pendampingan narasumber.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang simulasi. Suasana kegiatan pun tidak sekadar menjadi sesi penyampaian materi, tetapi berubah menjadi pembelajaran berbasis pengalaman.

Melalui praktik tersebut, warga sekolah tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran, tetapi juga dilatih untuk mengenali respons yang tepat dalam situasi darurat.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. SMA Negeri 2 Banjar berharap kegiatan literasi SPAB tersebut dapat memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperoleh diharapkan tidak hanya berguna ketika berada di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di rumah.

Sebab, ketika kebakaran terjadi, kemampuan untuk bertindak cepat bukan lagi sekadar pengetahuan—melainkan bisa menentukan keselamatan.

Editor: Francelino
Sumber: Humas SMANDAR

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button