Opini

Makna Pesta Imamat Bagi Imam Katolik – Mengenang Rahmat, Memperbarui Kesetiaan, dan Meneguhkan Harapan

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng
-Mantan Dosen Seminario Menor Nossa Senhora de Fátima, Balide, Dili
-Alumni San Diego State University, San Diego, California – USA

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yohanes 15:16)

Pendahuluan

SETIAP tahun Gereja merayakan berbagai pesta liturgi yang mengingatkan umat akan karya keselamatan Allah dalam sejarah. Di samping perayaan-perayaan liturgis resmi, Gereja juga mengenal perayaan-perayaan syukur yang lahir dari pengalaman hidup umat beriman, salah satunya adalah Pesta Imamat atau peringatan tahbisan imam. Baik dirayakan setiap tahun maupun secara khusus dalam jubileum—25 tahun (Perak), 40 tahun (Delima), 50 tahun (Emas), 60 tahun (Intan), atau bahkan 70 tahun (Platina)—pesta imamat merupakan kesempatan istimewa untuk memandang kembali karya Allah yang setia memanggil, menyertai, dan menguduskan seorang imam.

Pesta imamat bukanlah perayaan keberhasilan pribadi atau penghargaan atas prestasi manusia. Gereja memahami bahwa seluruh kehidupan seorang imam berakar pada rahmat Allah yang bekerja melalui Sakramen Tahbisan. Oleh karena itu, inti pesta imamat adalah ucapan syukur kepada Allah atas kasih-Nya yang tanpa batas. Imam hanyalah pelayan yang dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kristus, Sang Imam Agung, di tengah umat-Nya.

Dalam dunia yang terus berubah, penuh tantangan, dan sering kali kehilangan orientasi rohani, kehadiran seorang imam tetap menjadi tanda harapan. Ia dipanggil untuk mewartakan Injil, merayakan sakramen-sakramen, menggembalakan umat, menghibur yang menderita, menguatkan yang lemah, serta menjadi saksi belas kasih Allah. Karena itu, pesta imamat bukan hanya menjadi momen refleksi pribadi bagi imam yang merayakannya, tetapi juga menjadi kesempatan bagi seluruh umat untuk mengenang kembali betapa besar anugerah Allah yang diberikan melalui pelayanan para imam.

1. Imamat sebagai Panggilan Allah

Dasar pertama untuk memahami pesta imamat adalah menyadari bahwa imamat merupakan inisiatif Allah sendiri. Tidak seorang pun dapat menjadikan dirinya imam berdasarkan kehendaknya sendiri.
Penulis Surat kepada Orang Ibrani menegaskan:
“Tidak seorang pun mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah.” (Ibrani 5:4)

Panggilan menjadi imam selalu merupakan misteri rahmat. Allah memilih seseorang bukan karena ia paling sempurna, paling berbakat, atau paling suci, melainkan karena kasih dan kehendak-Nya. Sebagaimana Yesus memilih para rasul yang sederhana, demikian pula hingga hari ini Allah tetap memanggil manusia biasa untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.

Sabda Yesus kepada para murid menjadi dasar spiritualitas setiap imam:
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah.” (Yohanes 15:16)

Panggilan imam selalu merupakan jawaban atas cinta Allah lebih dahulu. Kesadaran inilah yang membuat pesta imamat menjadi pesta syukur, bukan pesta kebanggaan.

2. Tahbisan Imamat: Meterai yang Tak Terhapuskan

Menurut ajaran Gereja, Sakramen Tahbisan memberikan karakter rohani yang tidak dapat dihapuskan (character indelebilis). Sekali seseorang ditahbiskan secara sah menjadi imam, ia tetap menjadi imam untuk selama-lamanya.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
“Sakramen Tahbisan memberikan suatu meterai rohani yang tak terhapuskan dan tidak dapat diulangi atau diberikan hanya untuk sementara waktu.” (KGK 1582)

Karena itu pesta imamat bukan sekadar memperingati tanggal historis penumpangan tangan oleh uskup, tetapi mengenangkan karya Roh Kudus yang terus berlangsung sepanjang hidup imam.

Imam mungkin berpindah tempat tugas, mengalami keberhasilan maupun kegagalan, sehat ataupun sakit, muda maupun lanjut usia. Namun rahmat tahbisan tetap bekerja dalam dirinya.

Mazmur menggambarkan kesetiaan Allah:
“Kasih setia Tuhan untuk selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 103:17)

Kesetiaan Allah inilah yang menjadi sumber kekuatan imam.

3. Imam sebagai Alter Christus

Tradisi Gereja sejak masa para Bapa Gereja memahami imam sebagai Alter Christus, “Kristus yang lain”, bukan karena imam menggantikan Kristus, tetapi karena Kristus sendiri bertindak melalui dirinya.

Konsili Vatikan II mengajarkan:
“Para imam, berkat Sakramen Tahbisan, dikuduskan menurut citra Kristus Imam Agung yang kekal untuk mewartakan Injil, menggembalakan umat beriman dan merayakan ibadat ilahi.” (Presbyterorum Ordinis, 2)

Dalam ensiklik dan dokumen-dokumen selanjutnya, Gereja menegaskan bahwa imam bertindak in persona Christi Capitis, yakni dalam pribadi Kristus Kepala Gereja.

Ketika imam mengucapkan kata-kata konsekrasi:
“Inilah Tubuh-Ku…”
bukan sekadar imam berbicara tentang Kristus, tetapi Kristus sendiri berkarya melalui pelayan-Nya.

Karena itu, pesta imamat sesungguhnya adalah pesta kesetiaan Kristus yang terus hadir melalui pelayanan imam.

4. Ekaristi: Jantung Kehidupan Imam

Tidak ada hubungan yang lebih erat antara imam dan Gereja selain dalam Perayaan Ekaristi.

Yesus berkata:
“Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku.” (Lukas 22:19)
Perintah inilah yang menjadi dasar pelayanan imamat.

Dalam ensiklik Ecclesia de Eucharistia, Santo Yohanes Paulus II menulis:
“Gereja hidup dari Ekaristi.”

Bagi imam, Ekaristi bukan hanya tugas liturgis, tetapi sumber seluruh kehidupannya.

Setiap altar menjadi tempat imam mempersembahkan hidupnya bersama kurban Kristus.

Dalam setiap Misa, imam membawa sukacita umat, air mata keluarga, harapan orang sakit, doa kaum muda, pergumulan para pekerja, serta seluruh kehidupan Gereja.

Karena itu pesta imamat tidak pernah dapat dipisahkan dari Ekaristi. Misa Syukur menjadi puncak seluruh perayaan karena di sanalah imam kembali mempersembahkan dirinya kepada Kristus.

5. Pesta Imamat sebagai Kenangan akan Kesetiaan Allah

Dalam Kitab Suci, mengenang berarti menghadirkan kembali karya Allah.
Bangsa Israel berulang kali diperintahkan:
“Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulalui bersama TUHAN.” (Ulangan 8:2)
Demikian pula pesta imamat merupakan saat mengenang perjalanan panjang rahmat Allah.

Seorang imam mungkin telah melayani di berbagai paroki, sekolah, seminari, rumah sakit, daerah terpencil, bahkan wilayah misi.

Ia mengenang ribuan baptisan.
Ratusan pasangan yang diberkati dalam sakramen perkawinan.
Tak terhitung pengakuan dosa.
Ribuan homili.
Tak terhitung kunjungan kepada orang sakit.
Semua menjadi mosaik karya Allah.

Pesta imamat menjadi saat untuk berkata seperti pemazmur:
“Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya.” (Mazmur 89:2)

6. Pesta Imamat sebagai Pembaruan Kesetiaan

Syukur sejati selalu membawa pembaruan.
Nabi Yeremia menyampaikan firman Tuhan:
“Aku akan memberikan kepadamu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku.” (Yeremia 3:15)

Ayat ini mengingatkan imam agar terus membiarkan dirinya dibentuk menjadi gembala menurut hati Kristus.

Kesetiaan imam bukan sekadar bertahan dalam jabatan, melainkan terus bertumbuh dalam kasih.

Paus Fransiskus berulang kali mengingatkan bahwa imam hendaknya menjadi gembala yang dekat dengan umat, bukan pejabat yang jauh dari kehidupan mereka.

Kesetiaan itu tampak dalam doa yang tekun, pelayanan yang rendah hati, kehidupan sederhana, belas kasih terhadap yang berdosa, serta kesiapsediaan untuk melayani kapan pun dibutuhkan.

7. Pesta Imamat sebagai Perayaan Bersama Umat

Imam tidak pernah hidup bagi dirinya sendiri.
Sejak tahbisan, ia menjadi milik Kristus sekaligus milik Gereja.
Karena itu pesta imamat selalu menjadi pesta seluruh umat.

Santo Paulus menulis:
“Karena itu yang paling penting ialah bahwa orang yang ditugaskan sebagai pelayan ternyata dapat dipercayai.” (1 Korintus 4:2)

Umat mengenang imam yang telah membaptis anak-anak mereka.
Yang memberkati perkawinan mereka.
Yang menguatkan keluarga saat berduka.
Yang menghibur ketika sakit.
Yang mendampingi kaum muda.
Yang mengajar iman.

Karena itu pesta imamat menjadi kesempatan umat mengungkapkan syukur kepada Allah atas pelayanan seorang imam.

8. Jubileum Imamat: Tanda Kesetiaan Sepanjang Zaman

Dalam tradisi Kitab Suci, Tahun Yobel merupakan tahun rahmat.
Imamat yang mencapai usia 25, 40, 50 atau bahkan 60 tahun menjadi tanda bahwa Allah tetap berkarya melalui kelemahan manusia.

Semakin panjang perjalanan imamat, semakin nyata bahwa semuanya adalah rahmat.

Seorang imam lanjut usia mungkin sudah tidak lagi kuat memimpin banyak kegiatan pastoral.

Namun doa-doanya, teladan hidupnya, penderitaan yang dipersembahkan kepada Tuhan, justru menjadi kesaksian yang semakin kuat.

Sebagaimana dikatakan Santo Paulus:
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9)

9. Tantangan Imamat di Zaman Modern

Pesta imamat juga menjadi saat refleksi terhadap tantangan pelayanan dewasa ini.
Sekularisasi.
Individualisme.
Kemajuan teknologi.
Budaya instan.
Krisis keluarga.
Kemiskinan.
Ketidakadilan sosial.
Semuanya menjadi medan perutusan imam.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengajak seluruh pelayan Gereja agar keluar menuju “pinggiran” kehidupan manusia.

Imam dipanggil bukan hanya menjaga struktur Gereja, tetapi menghadirkan Injil di tengah dunia yang haus akan kasih dan pengharapan.

Karena itu pesta imamat bukan nostalgia masa lalu, melainkan pembaruan semangat misioner.

10. Spiritualitas Syukur

Dalam bahasa Yunani, kata Eucharistia berarti ucapan syukur.
Seluruh kehidupan imam semestinya menjadi Ekaristi yang hidup.
Syukur ketika berhasil.
Syukur ketika gagal.
Syukur ketika sehat.
Syukur ketika sakit.
Syukur ketika dipuji.
Syukur ketika disalahpahami.

Santo Paulus menulis:
“Mengucap syukurlah dalam segala hal.” (1 Tesalonika 5:18)

Inilah semangat terdalam pesta imamat.

11. Maria, Bunda Para Imam

Tidak ada imam yang berjalan sendirian.
Maria selalu hadir sebagai Bunda Gereja sekaligus Bunda para imam.
Di kaki salib Yesus berkata:
“Inilah ibumu.” (Yohanes 19:27)

Tradisi Gereja melihat bahwa seluruh murid Kristus, termasuk para imam, menerima Maria sebagai ibu rohani.

Dalam hidup seorang imam, doa Rosario, devosi kepada Maria, serta teladan kerendahan hatinya menjadi sumber penghiburan dan kekuatan.

Sebagaimana Maria mengucapkan:
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan.” (Lukas 1:38)
demikian pula imam dipanggil menjadi hamba Injil sepanjang hidupnya.

Penutup

Pesta imamat bukan sekadar peringatan perjalanan waktu. Lebih dari itu, pesta imamat merupakan perayaan kasih Allah yang tidak pernah berhenti bekerja melalui manusia yang rapuh. Di balik setiap tahun pelayanan terdapat ribuan kisah rahmat yang mungkin tidak pernah tercatat dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam hati umat yang pernah disentuh oleh pelayanan seorang imam.

Bagi imam sendiri, pesta imamat menjadi kesempatan untuk kembali menatap awal panggilannya, mengingat janji yang pernah diucapkan di hadapan Gereja, serta memperbarui komitmen untuk mengikuti Kristus dengan hati yang semakin murni. Sukacita pelayanan, pengalaman jatuh bangun, keberhasilan maupun kegagalan, semuanya disatukan dalam satu pengakuan iman: “Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan.”

Bagi umat beriman, pesta imamat menjadi kesempatan untuk mendoakan para imam agar tetap setia pada panggilan mereka. Di tengah dunia yang terus berubah, Gereja membutuhkan imam-imam yang kudus, rendah hati, dekat dengan umat, mencintai Ekaristi, setia pada doa, serta berani menjadi saksi Injil. Sebagaimana diingatkan oleh Konsili Vatikan II, para imam dipanggil untuk menggembalakan umat Allah dengan semangat Kristus Sang Gembala Baik, yang datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:28).

Pada akhirnya, pesta imamat selalu mengarahkan pandangan kepada Kristus sendiri, Imam Agung dan Gembala Abadi. Dialah sumber panggilan, kekuatan pelayanan, dan tujuan akhir seluruh kehidupan imamat. Setiap peringatan tahbisan menjadi undangan untuk kembali mendengarkan suara-Nya yang berkata, “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:19), serta mempersembahkan seluruh hidup sebagai kurban syukur yang hidup bagi kemuliaan Allah dan keselamatan umat-Nya.

Kiranya setiap pesta imamat menjadi kesempatan bagi Gereja untuk semakin mencintai para imamnya, mendoakan mereka dengan setia, serta bersama-sama membangun persekutuan yang semakin mencerminkan wajah Kristus. Semoga para imam, apa pun usia dan masa pelayanannya, senantiasa dapat mengucapkan bersama Rasul Paulus:

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)

Dan semoga seluruh hidup mereka tetap menjadi madah syukur yang tak henti-hentinya kepada Allah, yang telah memanggil, menguduskan, dan mengutus mereka demi keselamatan dunia. ***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button