Opini

Meditatio Religiosa: Ketika Rosario Menjadi Bahasa Persaudaraan

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng, Bali
-Mantan Dosen Seminario Menor Nossa Senhora de Fátima, Balide, Dili
-Alumni San Diego State University (SDSU), San Diego, California, USA

OKTOBER datang dengan suasana yang khas bagi umat Katolik. Di bulan ini, butiran Rosario kembali disentuh, doa-doa kembali dipanjatkan, dan nama Maria kembali disebut dalam keheningan hati. Oktober dikenal sebagai Bulan Rosario, sebuah momentum bagi umat Katolik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui permenungan atas perjalanan hidup Yesus Kristus bersama Bunda Maria.

Namun, Rosario sesungguhnya bukan hanya tentang butiran doa yang bergerak dari satu jari ke jari yang lain. Di balik setiap doa terdapat kerinduan akan kedamaian, harapan, pengampunan, dan kasih. Karena itu, doa Rosario semestinya tidak berhenti di bibir atau di dalam ruang-ruang ibadah. Ia perlu menjelma menjadi sikap hidup: menjadi lebih sabar, lebih peduli, lebih mampu mengampuni, dan lebih terbuka kepada sesama.

Dalam konteks itulah ucapan “Selamat Menjalani Bulan Rosario” dari Menteri Agama Republik Indonesia terasa memiliki makna yang lebih dalam. Sebuah ucapan sederhana dapat menjadi pesan kebangsaan yang kuat: bahwa setiap umat beragama memiliki ruang untuk menjalankan keyakinannya, dan bahwa keberagaman agama bukan alasan untuk saling menjauh.

Barangkali inilah salah satu wajah toleransi yang paling sederhana sekaligus paling indah. Toleransi tidak selalu harus hadir dalam forum-forum besar atau dalam pidato yang panjang. Terkadang ia hadir dalam sebuah ucapan selamat, dalam kesediaan menghormati hari besar orang lain, dalam memberikan ruang bagi tetangga untuk beribadah, atau dalam kemampuan mengatakan, “Silakan jalankan imanmu, saya menghormatinya.”

Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh manusia dengan keyakinan yang beragam. Kita mungkin tidak memanjatkan doa yang sama, tidak datang ke rumah ibadah yang sama, dan tidak menjalani tradisi keagamaan yang sama. Tetapi kita berbagi tanah air yang sama, menghirup udara yang sama, serta memiliki kebutuhan yang sama untuk hidup aman, damai, dan dihargai.

Karena itu, toleransi bukan berarti kita harus menjadi sama. Justru toleransi menjadi bermakna karena kita tetap berbeda. Seorang Katolik dapat menjadi Katolik dengan teguh, seorang Muslim dapat menjadi Muslim dengan taat, demikian pula umat agama lainnya dapat menjalankan keyakinannya masing-masing—tanpa harus merendahkan atau mencurigai satu sama lain.

Bulan Rosario memberikan kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: apakah doa yang kita panjatkan telah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik bagi orang lain?

Sebab, akan menjadi ironi apabila seseorang tekun berdoa tetapi sulit menghormati sesama. Akan menjadi kehilangan makna apabila bibir mengucapkan doa tentang kasih, sementara hati masih dipenuhi kebencian terhadap mereka yang berbeda.

Mungkin di sinilah perjumpaan antara doa dan toleransi menemukan maknanya. Doa menata hati dari dalam, sementara toleransi menghadirkan buahnya dalam kehidupan bersama. Doa mengajarkan kita untuk melihat manusia bukan pertama-tama dari perbedaan identitasnya, tetapi dari martabatnya sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Maka, ketika seorang Menteri Agama menyampaikan “Selamat Menjalani Bulan Rosario”, kita dapat melihatnya sebagai lebih dari sekadar sapaan kepada umat Katolik. Ia dapat menjadi simbol bahwa negara hadir untuk merawat ruang kebebasan beragama sekaligus membangun jembatan kemanusiaan di tengah keberagaman.

Di tengah dunia yang kadang mudah terpecah hanya karena perbedaan, ucapan sederhana semacam itu mengingatkan kita bahwa menjadi Indonesia berarti belajar untuk saling menghormati.

Biarlah Oktober tidak hanya menjadi bulan ketika umat Katolik semakin tekun memegang Rosario. Biarlah ia juga menjadi momentum bagi kita semua untuk menggenggam sesuatu yang lebih besar: persaudaraan.

Sebab pada akhirnya, kita tidak harus berdoa dengan cara yang sama untuk dapat hidup dalam damai. Kita hanya perlu belajar menghormati doa orang lain, sebagaimana kita berharap doa dan keyakinan kita sendiri dihormati.

Selamat menjalani Bulan Rosario. Semoga doa melahirkan kasih, kasih melahirkan kepedulian, dan kepedulian menjadikan Indonesia semakin kuat sebagai rumah bersama bagi semua. Tuhan Memberkati! ***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button