Opini

Hari Kesaktian Pancasila: Meneguhkan Jiwa Nasionalisme di Tengah Pudarnya Semangat Generasi Muda dan Maraknya Korupsi

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas
-Pemred SINARTIMUR.co.id
-Ketua SMSI Kabupaten Buleleng
-Alumni San Diego State University (SDSU) San Diego, California, USA

SETIAP TANGGAL 1 OKTOBER, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial atau rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan sejarah bangsa sekaligus merefleksikan sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial, seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, di tengah perkembangan zaman, globalisasi, dan pesatnya teknologi informasi, penerapan nilai-nilai tersebut menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah mulai pudarnya jiwa nasionalisme di kalangan sebagian generasi muda dan masih maraknya praktik korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tanggung jawab terhadap negara.

Pudarnya Jiwa Nasionalisme Generasi Muda

Generasi muda merupakan salah satu kekuatan utama bagi masa depan Indonesia. Mereka memiliki peran penting dalam menentukan arah bangsa pada masa yang akan datang. Namun, perkembangan teknologi dan arus globalisasi membawa perubahan besar terhadap pola pikir, gaya hidup, serta cara generasi muda memandang identitas kebangsaan.

Kemajuan teknologi tentu memberikan banyak manfaat. Generasi muda dapat memperoleh informasi dan pengetahuan dengan mudah, berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara, serta mengenal berbagai budaya dunia. Akan tetapi, keterbukaan tersebut juga dapat menjadi tantangan apabila tidak disertai kemampuan untuk menyaring informasi dan mempertahankan nilai-nilai kebangsaan.

Memudarnya nasionalisme tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan yang ekstrem. Hal tersebut dapat terlihat dari semakin rendahnya kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitar, kurangnya penghargaan terhadap budaya dan produk bangsa sendiri, munculnya sikap individualistis, serta berkurangnya pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Nasionalisme pada masa kini tidak harus diwujudkan hanya dengan mengangkat senjata atau melakukan perjuangan fisik. Belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga persatuan, menghargai keberagaman, menaati aturan, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, menjaga lingkungan, dan berkontribusi positif bagi masyarakat juga merupakan bentuk kecintaan terhadap Indonesia.

Korupsi dan Pengkhianatan terhadap Nilai Pancasila

Di sisi lain, persoalan korupsi menjadi tantangan serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi bukan hanya persoalan mengambil uang negara. Praktik tersebut dapat merusak kepercayaan masyarakat, menghambat pembangunan, memperbesar ketimpangan, dan merugikan kepentingan publik.

Jika dikaitkan dengan Pancasila, tindakan korupsi bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Seseorang yang menyalahgunakan jabatan untuk memperoleh keuntungan pribadi berarti menempatkan kepentingan dirinya di atas kepentingan masyarakat. Padahal, sila kelima Pancasila mengandung cita-cita untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Korupsi juga dapat dipandang sebagai persoalan moral. Ketika seseorang yang diberi amanah justru menyalahgunakan kekuasaannya, persoalannya bukan hanya mengenai pelanggaran hukum, tetapi juga mengenai hilangnya tanggung jawab terhadap masyarakat dan negara.

Oleh karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali kesadaran bahwa menjadi warga negara yang baik tidak cukup hanya dengan menghafalkan lima sila. Nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan keberanian menolak tindakan yang merugikan kepentingan bersama.

Peran Generasi Muda dalam Menjaga Pancasila

Generasi muda memiliki posisi strategis dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Mereka bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga bagian dari masyarakat yang menentukan kondisi Indonesia saat ini.

Untuk menjaga semangat nasionalisme, generasi muda dapat memulainya dari hal-hal sederhana. Menghargai perbedaan suku, agama, budaya, dan pendapat merupakan salah satu bentuk penerapan semangat persatuan. Menghindari penyebaran berita palsu dan ujaran kebencian di media sosial juga merupakan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.

Selain itu, generasi muda perlu membangun budaya kejujuran sejak dini. Menolak menyontek, tidak melakukan kecurangan, berani mengakui kesalahan dan berani meminta maaf, serta menjalankan tanggung jawab dengan baik merupakan latihan untuk membentuk karakter antikorupsi. Kebiasaan kecil tersebut penting karena integritas tidak terbentuk secara tiba-tiba ketika seseorang telah menduduki jabatan penting.

Pendidikan juga memiliki peran penting. Sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa. Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan seharusnya tidak berhenti pada hafalan, tetapi mendorong peserta didik untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata.

Hari Kesaktian Pancasila sebagai Momentum Refleksi

Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak hanya diperingati melalui upacara dan kegiatan seremonial. Lebih dari itu, tanggal 1 Oktober dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar telah kita terapkan?

Pertanyaan tersebut penting karena tantangan bangsa pada masa kini tidak hanya berupa ancaman terhadap keutuhan negara, tetapi juga persoalan yang muncul dari dalam kehidupan masyarakat sendiri. Lunturnya kepedulian sosial, meningkatnya individualisme, intoleransi, penyebaran informasi palsu, serta praktik korupsi merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.

Mempertahankan Pancasila berarti mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya melalui tindakan nyata. Pancasila akan memiliki makna apabila nilai persatuan diterapkan, kemanusiaan dihargai, musyawarah dijalankan, keadilan diperjuangkan, dan tanggung jawab kepada bangsa ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Closing

Hari Kesaktian Pancasila merupakan momentum untuk mengingat sejarah sekaligus melakukan refleksi terhadap kondisi bangsa saat ini. Pudarnya jiwa nasionalisme sebagian generasi muda dan masih adanya praktik korupsi menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga masa depan Indonesia. Nasionalisme tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Demikian pula semangat antikorupsi harus dibangun dari kebiasaan sederhana seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan keberanian menolak segala bentuk kecurangan.

Pada akhirnya, kesaktian Pancasila tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada kesediaan setiap warga negara untuk mengamalkan nilai-nilainya. Jika Pancasila benar-benar dijadikan pedoman dalam kehidupan, maka semangat persatuan, nasionalisme, integritas, dan keadilan dapat terus tumbuh di tengah perubahan zaman. Hari Kesaktian Pancasila pun tidak sekadar menjadi peringatan tahunan, melainkan menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa merupakan tanggung jawab bersama.***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button