Lovina Tak Lagi Sekadar Pantai, Catwalk Ekraf Buleleng Mulai Menantang Panggung Nasional

Quotation:
“Lovina Festival tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mampu menjadi panggung bagi lahirnya talenta-talenta baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Buleleng,” ucap Mila.
Lovina, SINARTIMUR.co.id — Lovina Festival 2026 menunjukkan wajah yang berbeda. Di tengah riuh wisatawan menikmati panorama Pantai Binaria, Minggu (26/7/2026), panggung utama justru berubah menjadi ruang unjuk kreativitas generasi muda melalui lomba fashion show bertema busana pantai. Festival yang selama ini identik dengan promosi pariwisata kini mulai menegaskan perannya sebagai panggung ekonomi kreatif Kabupaten Buleleng.
Sebanyak 34 peserta dari tiga kategori usia tampil membawakan rancangan busana pantai dalam kompetisi yang diinisiasi D&M Modeling. Ajang ini tidak sekadar menghadirkan hiburan bagi pengunjung, melainkan menjadi ruang bagi model, desainer, seniman, dan pelaku ekonomi kreatif memperkenalkan karya sekaligus membangun jejaring yang selama ini dinilai masih terbatas.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, Kadek Mila Pradnyani, mengatakan Lovina Festival diarahkan tidak hanya menjadi sarana promosi destinasi wisata, tetapi juga wahana pemberdayaan pelaku ekonomi kreatif.

“Melalui Lovina Festival, kami ingin membuka ruang bagi para pelaku seni dan ekonomi kreatif untuk berpartisipasi, menampilkan karya terbaik mereka, sekaligus memperkenalkan potensi yang dimiliki kepada masyarakat. Fashion show ini menjadi salah satu bentuk dukungan kami terhadap tumbuhnya kreativitas generasi muda di Buleleng,” ujarnya.
Menurut Mila, pemilihan tema busana pantai bukan tanpa alasan. Karakter Lovina sebagai destinasi wisata bahari dinilai layak diterjemahkan ke dalam karya fesyen yang lebih segar dan kontemporer. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi pembeda dibandingkan berbagai festival lain di Bali yang lebih banyak mengangkat busana berbahan endek atau bernuansa etnik.
Ia berharap ruang kreatif semacam ini terus diperluas pada penyelenggaraan Lovina Festival mendatang dengan melibatkan lebih banyak komunitas, desainer, hingga pelaku industri fesyen.
“Ke depan kami ingin kegiatan ini menjadi lebih besar, pesertanya semakin banyak, dan kolaborasinya semakin luas. Dengan begitu, Lovina Festival tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mampu menjadi panggung bagi lahirnya talenta-talenta baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Buleleng,” katanya.
Owner D&M Modeling, Anak Agung Ayu Wari Kristine, menilai antusiasme peserta menjadi sinyal positif bahwa minat generasi muda Buleleng terhadap dunia modeling terus meningkat. Kompetisi dibagi dalam tiga kelompok usia, yakni kategori A (4–7 tahun), kategori B (8–12 tahun), dan kategori C (13 tahun ke atas).

Meski demikian, menurut Kristine, kesempatan bagi talenta daerah untuk tampil di ajang kompetitif masih belum banyak tersedia. Padahal, pengalaman selama lebih dari 26 tahun membina D&M Modeling menunjukkan anak-anak Buleleng memiliki daya saing hingga level nasional bahkan internasasional. Beberapa di antaranya telah tampil dalam berbagai ajang di luar negeri, termasuk di Bangkok.
“Anak-anak Buleleng memiliki keberanian untuk tampil dan kemampuan yang tidak kalah dengan daerah lain. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk berproses, berkompetisi, dan terus mengembangkan bakatnya,” ujarnya.
Kristine menegaskan, pendidikan modeling sejatinya tidak hanya mengejar prestasi di atas catwalk. Pembentukan karakter, etika, kemampuan berkomunikasi, dan rasa percaya diri justru menjadi fondasi utama agar peserta mampu bertahan di industri kreatif.
“Sebagus apa pun penampilan seorang model, jika tidak memiliki etika dan kepribadian yang baik, akan sulit berkembang di industri ini. Karena itu kami tidak hanya mengajarkan teknik modeling, tetapi juga membentuk karakter agar mereka siap menghadapi dunia profesional,” katanya.
Di balik gemerlap panggung, kebahagiaan juga dirasakan Dea, siswi SMP Negeri 4 Singaraja yang berhasil meraih juara pertama kategori umum. Ia mengaku tidak menyangka namanya diumumkan sebagai pemenang karena menilai seluruh peserta tampil kompetitif.
“Saya sempat sangat deg-degan dan awalnya tidak menyangka bisa menjadi juara pertama. Semua peserta tampil bagus, jadi saya benar-benar senang dan bersyukur bisa mendapatkan hasil ini,” tuturnya.
Berawal dari hobi menari, Dea kemudian menekuni dunia modeling melalui D&M Modeling School. Dengan dukungan orang tuanya, ia kini bertekad terus mengikuti berbagai kompetisi sebagai bagian dari proses mengasah kemampuan.
“Semoga ke depan festival seperti ini semakin meriah, penataan areanya lebih baik, dan kegiatan fashion show bisa diikuti lebih banyak peserta,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kompetisi busana, fashion show di Lovina Festival menjadi penanda bahwa pengembangan pariwisata Buleleng mulai bergerak ke arah yang lebih inklusif. Ketika ruang ekspresi dibuka bagi pelaku ekonomi kreatif, festival bukan hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga menjadi investasi bagi lahirnya talenta baru dan penguatan ekosistem kreatif daerah.
Writer: Widi
Editor: Francelino



