
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14:11)
CERITA ANAK tentang seekor kura-kura yang ditolong oleh bangau untuk menyeberangi sungai yang sedang dilanda banjir memberi pelajaran yang menarik. Karena tidak mampu berenang melawan arus deras, kura-kura itu meminta pertolongan bangau. Sang bangau kemudian membawa sebuah ranting kuat, meminta kura-kura menggigitnya dengan erat, lalu menerbangkannya menuju tempat yang aman. Namun, kisah ini berakhir tragis. Ketika mereka melintas di atas daratan, hewan-hewan di bawah memandang dengan heran dan memuji kura kura yang tampak seolah-olah bisa terbang. Mendengar pujian itu, kura-kura tidak mampu menahan diri untuk berbangga. la membuka mulutnya untuk membalas pujian, sehingga gigitan pada ranting yang menopangnya terlepas. Seketika itu juga kura-kura jatuh dan celaka.
Tidak semua ujian hidup datang dalam bentuk penderitaan. Ada ujian yang justru tampak indah: pujian, pengakuan, dan posisi jabatan. Ketika seseorang mulai dipuji, dihormati, dan memiliki kuasa, di situlah hati benar-benar diuji. Apakah ia tetap rendah hati, atau perlahan berubah menjadi sombong, menindas, bahkan memakai tipu daya untuk menjatuhkan orang lain demi mempertahankan posisinya.
Ujian hidup dapat berupa kehausan akan pengakuan orang lain atas pencapaian dan keberhasilan yang dicapai. Di dunia yang gemar memberi nilai pada pencapaian dan pengakuan manusia, orang percaya pun dapat terjebak mencari validasi dari orang lain. Pujian memang terasa menyenangkan, tetapi jika hati senantiasa bergantung padanya, kita akan mudah goyah saat pujian itu hilang. Firman Tuhan mengingatkan bahwa sumber nilai diri kita bukan berasal dari suara manusia, melainkan dari Allah sendiri.
Demikian juga ketika jabatan menjadi berhala, orang bisa menghalalikan segala cara: memfitnah, menjatuhkan, memutarbalikkan kebenaran, dan menindas yang lemah. Padahal Tuhan membenci kepemimpinan yang dibangun di atas ketidakadilan dan tipu daya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kebesaran di mata Tuhan tidak diukur dari posisi, melainkan dari kerendahan hati dan kasih. Semakin tinggi seseorang diangkat, semakin besar pula panggilan untuk melayani, bukan menguasai.
Melewati “Lembah Pemurnian”, marilah kita mengingat bahwa maksud semua ujian tersebut adalah untuk membuktikan kemurnian iman (1 Petrus 1:7). Karena itu, pengakuan diri yang sehat bukanlah kesombongan, melainkan kesadaran bahwa kita berharga karena diciptakan dan ditebus oleh Tuhan. Saat kita memahami siapa kita di dalam Kristus, pujian tidak membuat kita meninggi, dan kritik tidak membuat kita runtuh. Identitas kita teguh karena berakar pada kasih Allah yang tidak berubah.
Questions:
1. Mengapa ujian yang berbahaya adalah ujian pujian?
2. Bagaimanakah cara kita memiliki pengakuan diri yang seimbang berdasarkan kebenaran FirmanNya? Diskusikan!
Values:
Pengakuan diri yang seimbang terjadi ketika orang percaya hidup rendah hati namun penuh keyakinan sebagai anak-anak-Nya.
Kingdom Quotes:
Sebab siapa yang memuji dirinya sendiri, ia tidak tahan uji, tetapi siapa yang dipuji Tuhan, dialah yang tahan uji. (2 Korintus 10:18)
Editor: Francelino
Sumber: King’s Sword (Senin, 9 Maret 2026)



