850 Guru Buleleng Siap Didik GEN ALPHA dengan Cinta Melalui “Buleleng Excellent Teacher 2026”
Kak Seto Ajak Orangtua Didik Anak di Rumah

Quotation:
”Anak Generasi Alpha butuh dituntun, bukan hanya diawasi. Kolaborasi antara sekolah dan rumah, menjadi kunci agar mereka tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat karakternya,” ungkap Bunda PAUD Buleleng, Wardhany Sutjidra.
Singaraja, SINARTIMUR.co.id — Sebanyak 850 tenaga pendidik dari seluruh penjuru Kabupaten Buleleng berkumpul di Gedung Kesenian Gde Manik pada hari ini, Sabtu (11/7), dalam perhelatan akbar “Buleleng Excellent Teacher 2026”. Mengusung tema dan semangat besar “Melayani dengan Hati, Menjadi yang Terbaik”, acara ini menjadi ajang pengembangan kompetensi berskala besar yang diselenggarakan berupa seminar dan workshop pendidikan.
Acara inovatif ini digagas oleh Ashta Global—dengan Joseph Ananta selaku Founder—melalui kolaborasi sinergis bersama Pemerintah Kabupaten Buleleng, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, serta PGRI hKabupaten Buleleng. Sinergi ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pihak dalam memajukan kualitas pendidikan di wilayah Buleleng.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Bupati Buleleng yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Disdikpora Kabupaten Buleleng, Bapak Ida Bagus Gde Surya Bharata, S.Pd., M.A.P. Dalam sambutan pembukaannya, beliau menekankan pentingnya peran guru sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter generasi masa depan yang unggul dan adaptif terhadap kecepatan transformasi zaman.
Berfokus pada strategi pendekatan pendidikan untuk Generasi Alpha (Gen Alpha), Buleleng Excellent Teacher 2026 membekali para peserta dengan kiat-kiat mendidik murid denganpendekatan cinta dan kasih sayang.
Acara ini menghadirkan deretan pakar dan figur inspiratif nasional di bidang pendidikan dan psikologi, antara lain:
* Prof. Dr. Seto Mulyadi, M.Si., Psikolog (Kak Seto), pakar psikologi anak nasional.
* Teacher Zayn Ali, Co-Director School of Human Jakarta.
* Firsta Yufi Amarta Putri, Puteri Indonesia 2025.

Selain para pakar nasional, perhelatan edukatif ini semakin istimewa dengan kehadiran Bunda PAUD Kabupaten Buleleng, Ny. Wardhany Sutjidra. Dia secara khusus turun langsung memberikan materi bertajuk “Peran Ibu pada Anak Gen Alpha”.
Dalam pemaparannya, Ny. Wardhany Sutjidra menyoroti bahwa sinergi dan kolaborasi antara peran pengasuhan di rumah dan pendidikan di sekolah adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan mendidik anak-anak digital natives.
Disebutkan, ada lima kunci yang harus dimiliki orang tua dan guru dalam mendidik Gen Alpha. Yakni sebagai digital mentor, emotional coach, role model, guru karakter, dan fasilitator deep learning.
Sebab Gen Alpha yang lahir pada 2018 hingga sekarang, karena lahir dan tumbuh besar di era internet, sehingga lebih cepat menguasai teknologi dibanding generasi sebelumnya. Namun salah satu dampak negatifnya, anak menjadi cepat bosan
”Anak Generasi Alpha butuh dituntun, bukan hanya diawasi. Kolaborasi antara sekolah dan rumah, menjadi kunci agar mereka tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat karakternya,” ungkap Bunda PAUD Buleleng, Wardhany Sutjidra.

Joseph Ananta, Founder Ashta Global, menambahka apalagi mendekati Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), pembekalan ini membuat para guru mendapatkan masukan, untuk membuat program belajar yang menarik. Sehingga membuat siswa tertarik untuk datang ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Mendidik anak-anak Gen Alpha tidak bisa lagi sekadar mengandalkan metode konvensional. Diperlukan sentuhan cinta, kesabaran ekstra, dan kecerdasan adaptasi. Melalui kolaborasi Ashta Global bersama pemerintah dan berbagai pihak di Buleleng, kami berharap seluruh guru dapat pulang membawa energi positif, siap mengabdi, dan melayani dengan hati,” ujar Joseph Ananta, Founder Ashta Global.
Sementara itu, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau Kak Seto mengatakan, tanggung jawab pendidikan ini bukan hanya milik pemerintah, tapi juga tanggung jawab masyarakat. Baik itu orang tua hingga kelompok masyarakat. Sebab dengan kepedulian yang sama pada pendidikan, mendukung masa depan anak.
Pihaknya meminta agar kurikulum hingga program belajar yang ramah anak. Tujuannya membuat anak senang belajar. Sehingga, kata Kak Seto, bukan anak untuk sekolah, tapi sekolah untuk anak. Ia juga meminta sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, melainkan diisi dengan unsur etika, estetika, nasionalisme, dan kesehatan.

”Jadi pendidikan yang sebenarnya itu adalah pendidikan informal oleh keluarga. 70 persen waktu anak bersama dengan keluarga, sementara 30 persen di sekolah. Bahkan sering dikatakan, the real education is informal education,” ujar pria yang juga pakar psikologi anak nasional itu.
Dilanjutkan Kak Seto, pendampingan orang tua sangat diperlukan. Ada dialog antara orang tua dan anak. Jadi tidak sekedar melarang, namun mengarahkan. Sehingga orang tua dengan peran pentingnya, tidak hanya mengajarkan anak tentang teori-teori mata pelajaran saja. Namun etika, sopan santun, agama, hingga karakter yang bisa dibimbing orang tua secara aktif.
Peserta yang terdiri dari ratusan guru ini tampak sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian sesi. Melalui kegiatan ini, Kabupaten Buleleng diharapkan dapat terus mencetak tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi, sehingga mampu melahirkan generasi penerus yang cerdas secara akademis, matang secara emosional, dan berkarakter mulia.
Writer: Francelino
Editor: Francelino



