Pendidikan

Webinar Psikologi Komunikasi UHN Sugriwa Bahas Mental Disorder dan Tantangan Gen Z di Era Digital

Quotation:
“Tema yang diangkat ini luar biasa karena menyentuh persoalan pengaruh dari luar (dunia maya). Sakit mental yang kita antisipasi melalui webinar ini sangat penting, khususnya bagi gen Z,” ucap Prof. Dr. Dra. Relin DA, M.Ag.

Denpasar, SINARTIMUR.co.id – Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Hindu, Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar menggelar webinar bertajuk Psikologi Komunikasi di Era Digital, Mental Disorder dan Gen Z Years Behind the Scene, Jumat (27/2/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Psikologi Komunikasi, I Made Widiantara, S.Psi., M.Si., CPR., CCM., serta diikuti mahasiswa dan peserta umum secara daring.

Direktur Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. Dra. Relin DA, M.Ag., menegaskan tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi perkembangan teknologi saat ini.

Menurutnya, persoalan kesehatan mental generasi Z menjadi isu serius akibat derasnya pengaruh dunia maya. “Tema yang diangkat ini luar biasa karena menyentuh persoalan pengaruh dari luar (dunia maya). Sakit mental yang kita antisipasi melalui webinar ini sangat penting, khususnya bagi gen Z,” katanya.

Prof. Relin menegaskan bahwa dalam situasi perkembangan teknologi yang sangat pesat dan peka, hal ini harus betul-betul dipahami bersama.

Ia menambahkan, jika mental generasi muda tidak kuat, maka akan sulit membangun kehidupan yang sehat dan harmonis.

Prof. Relin juga menyoroti adanya semacam “pertarungan psikologi” antargenerasi.
Gen Z, katanya, tumbuh dan berkembang dalam zaman dan alam yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Gen Z sejak awal kehidupannya sudah diperkenalkan dengan dunia digital. Berdasarkan sejumlah penelitian, penggunaan gawai bisa mencapai 10 jam per hari. “Terlalu lama, bahaya,” ujarnya, mengingatkan.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak berinteraksi langsung dengan manusia dan alam sekitar yang dalam konsep Hindu dikenal dengan Tri Hita Karana.

Setelah lahirnya Gen Z mulai terjadi pergeseran. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan dunia maya dan berbagai jenis media, sehingga menumbuhkan sekat antara orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

Gen Z seakan lebih berguru pada dunia digital dibandingkan dunia manusia. Mereka dipengaruhi oleh ‘orang tua angkat’, saudara baru, kawan, dan masyarakat digital.
“Ketimpangan inilah yang harus dicarikan solusi untuk digunakan sebagai jembatan generasi yang memiliki dunia masing-masing berbeda,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipatif, Prof. Relin mendorong adanya upaya menetralkan pengaruh dunia digital melalui penguatan olah mental, seperti yoga maupun praktik spiritual Hindu seperti Tri Sandya, sehingga keseimbangan psikologis tetap terjaga.
Pada kesempatan yang sama, Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu UHN Sugriwa, Dr. I Dewa Ayu Hendrawathy Putri, S.Sos., M.Si., mengatakan tema webinar selaras dengan fenomena di lapangan.

Menurutnya, saat ini hampir semua orang berada di ambang ketidakpastian, keraguan, dan kekhawatiran, khususnya terkait keseharian Gen Z. “Yang sebenarnya merasa khawatir bukan Gen Z itu sendiri, melainkan keluarga, orang tua, dan saudara dari generasi sebelumnya,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan sejumlah riset, ada beberapa faktor yang mendorong munculnya gangguan psikologis pada Gen Z, di antaranya pengaruh media sosial serta kecenderungan mengalami sindrom FOMO (Fear of Missing Out), yakni kekhawatiran berlebih dari orang tua dalam mengasuh anak di era digital.

Sementara itu, narasumber Psikologi Komunikasi, I Made Widiantara, S.Psi., M.Si., CPR., CCM., menyoroti tantangan luar biasa dalam menghadapi dilema-dilema di konteks digital yang kemudian terbawa ke dunia nyata.

“Tantangannya luar biasa, bagaimana kita menghadapi dilema-dilema dalam konteks digital, yang kemudian kita turunkan perilaku tersebut dalam dunia nyata,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Gen Z lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012. Mereka telah terpapar teknologi digital sejak awal.
Berdasarkan data yang dipaparkan, 97 persen Gen Z memiliki smartphone dengan rata-rata penggunaan layar lebih dari tujuh jam per hari. Disebutkannya, sekitar 60 persen Gen Z merasa cemas ketika tidak terhubung dengan internet. “Teknologi digital bukan sekadar alat bagi Gen Z. Ini sudah menjadi bagian dari identitas dan cara mereka membangun realitas sosial,” tegasnya.

Lanjut Widiantara, isu terbesar yang dihadapi Gen Z saat ini adalah mental health. Sejumlah survei menunjukkan bahwa kelompok usia ini menjadi salah satu yang paling banyak mengalami persoalan kesehatan mental.

Ia juga menyinggung paradoks yang dialami Gen Z. Secara digital mereka sangat terhubung, namun pada saat yang sama menjadi generasi yang paling kesepian.
“Kata kesepian ini berasumsi bahwa mereka terkoneksi dengan banyak orang melalui media digital. Namun berdasarkan survei, sekitar 80 persen Gen Z merasa kesepian,” ungkap akademisi Politeknik Negeri Bali ini.

Writer: Indra
Editor: Francelino

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button