Aksi Heroik Suster Ika Selamatkan Korban Human Trafficking Diberitakan Vatican News

Quotation:
“Gereja dipanggil untuk menjadi tanda dan instrumen kasih Allah yang membebaskan, membantu membangun masyarakat yang menghormati martabat manusia dan keadilan,” ucap Pastor Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.
Vatican City, SINARTIMUR.co.id – Aksi heroik Suster Fransiska Imakulata, SSpS, bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), yang berhasil menyelamatkan 13 wanita muda asal Jabar yang diduga kiat sebagai korban human traffacking atau korban TPPO, mendapat perhatian dari dunia internasional, terutama pusat gereja Katolik dunia, Vatican.
Media resmi Vatikan, Vatican News, langsung memberitakan kabar perjuangan dari jantung Flores. Ini bukan sekadar berita lokal, melainkan seruan kemanusiaan yang digaungkan hingga ke penjuru dunia.
Tiga belas wanita muda telah dibebaskan dari jeratan eksploitasi di sebuah kelab malam di Sikka. Mereka yang sebelumnya menderita kekerasan dan pelecehan, kini telah menemukan perlindungan di bawah naungan TRUK-F, benteng kemanusiaan yang disokong oleh ordo SVD dan SSpS.
Pada 9 Februari 2026, para imam, suster, dan aktivis turun ke jalan! Di depan gedung DPRD Maumere, mereka menabuh genderang keadilan, menuntut hukum ditegakkan tanpa pandang bulu terhadap para pemangsa martabat manusia. Suster Fransiska Imakulata, SSpS, mengungkap kenyataan pahit: ini adalah perang panjang sejak tahun 2000. Dengan janji gaji tinggi, kaum rentan dijebak.
Gereja mendesak pemerintah untuk bertindak nyata, bukan sekadar janji di atas kertas! Rektor IFTK Ledalero, Romo Otto Gusti Madung, SVD, menegaskan bahwa membela korban TPPO adalah misi suci. Gereja hadir bukan hanya untuk berdoa, tetapi untuk membebaskan dan membangun masa depan kaum muda yang bermartabat.
Berikut berita Vatican News (diambil media ini langsung dari Vatican News dan diterjemahkan oleh Francelino Xavier Ximenes Freitas, Pemred SINARTIMUR.co.id)) dengan judul “Indonesian Church Strengthens Fight Against Human Trafficking” (Gereja Indonesia Memperkuat Perjuangan Melawan Perdagangan Manusia)
Gereja Katolik di Flores, Indonesia bagian timur, telah meningkatkan upayanya untuk memerangi perdagangan manusia menyusul penyelamatan 13 perempuan muda yang diduga mengalami eksploitasi di sebuah klub malam di Kabupaten Sikka.
Para perempuan tersebut, berusia 17 hingga 26 tahun dan berasal dari Jawa Barat, mencari perlindungan pada Januari 2026 setelah dilaporkan mengalami kekerasan fisik, eksploitasi seksual, dan pelecehan kerja yang serius. Mereka sekarang menerima tempat perlindungan dan bantuan di rumah aman yang dikelola oleh Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), sebuah jaringan kemanusiaan yang didukung oleh Serikat Sabda Ilahi (SVD) dan Suster Misionaris Pelayan Roh Kudus (SSpS).
Seruan Publik untuk Akuntabilitas
Kasus ini telah memicu keprihatinan luas di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada 9 Februari, Jaringan Hak Asasi Manusia Sikka (Jaringan HAM Sikka), di mana TRUK-F memainkan peran sentral, menyelenggarakan demonstrasi damai di kantor Dewan Legislatif Daerah (DPRD) di Maumere.
Para pastor, biarawati, seminaris, dan pembela hak asasi manusia awam menyerukan penyelidikan menyeluruh dan tindakan hukum yang tegas terkait dugaan pelecehan di sebuah klub malam.
Perwakilan gereja menekankan bahwa tindakan mereka tidak ditujukan pada satu tempat saja, tetapi bertujuan untuk memastikan perlindungan yang lebih luas bagi pekerja rentan dan mencegah insiden serupa. Mereka mendesak pihak berwenang untuk memperkuat pengawasan terhadap tempat hiburan dan menegakkan undang-undang anti-perdagangan manusia yang ada secara lebih efektif.
Pola yang Merepotkan
Suster Fransiska Imakulata, SSpS, Direktur TRUK-F, mencatat bahwa organisasi tersebut telah membantu korban perdagangan manusia sejak tahun 2000. Ia menggambarkan kasus baru-baru ini sebagai bagian dari pola yang berulang.
Pada tahun 2021, 17 anak di bawah umur dari Jawa Barat diduga dieksploitasi di tempat hiburan di Sikka. Pada tahun 2024, delapan pria dari Maumere dilaporkan diperdagangkan ke Kalimantan Timur untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit; salah satu dari mereka meninggal. Kasus saat ini masih dalam penyelidikan hukum.
“Metode yang paling umum adalah janji gaji tinggi, akomodasi gratis, dan pekerjaan yang layak,” jelas SusterImakulata. Perempuan muda sering direkrut dengan tawaran untuk bekerja sebagai penyanyi di tempat hiburan malam, sementara yang lain dibujuk oleh agen yang menjanjikan pekerjaan tetap di luar Flores.
Ia menekankan bahwa perempuan dan anak-anak tetap sangat rentan, terutama mereka yang memiliki pendidikan dan kesempatan ekonomi terbatas. Namun, laki-laki juga berisiko ketika kemiskinan mendorong mereka untuk bermigrasi mencari pekerjaan. “Ketika korban laki-laki meninggal atau menderita luka serius, konsekuensinya ditanggung oleh seluruh keluarganya,” katanya.
Hukum dan tantangan
Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Manusia, bersama dengan peraturan daerah yang bertujuan untuk mencegah perdagangan manusia dan melindungi korban. Namun, Suster Imakulata mengamati bahwa implementasinya masih belum konsisten.
Selain menyediakan akomodasi yang aman, TRUK-F menawarkan advokasi hukum, konseling trauma, bantuan repatriasi, dukungan pendidikan, dan program pemberdayaan ekonomi. Jaringan ini juga melakukan kampanye kesadaran dan lokakarya untuk memperkuat kewaspadaan masyarakat dan mempromosikan penghormatan terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak.
“Dalam diri mereka yang menderita, kita melihat wajah Kristus,” kata Suster Imakulata. Ia mendorong warga untuk melaporkan kasus perdagangan manusia yang dicurigai, menekankan bahwa hukum nasional menjamin perlindungan dan kerahasiaan bagi mereka yang melapor.
Misi pastoral
Bagi Pastor Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero dan anggota TRUK-F, komitmen Gereja untuk memerangi perdagangan manusia berakar pada identitas pastoralnya.
“Perdagangan manusia adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang terus memengaruhi Flores,” katanya. Banyak penduduk setempat direkrut untuk bekerja di perkebunan di wilayah lain di Indonesia dan luar negeri, sementara individu dari provinsi lain juga menjadi korban di Flores.
“Sebagai Gereja yang berakar kuat dalam kehidupan umat, kita tidak bisa tetap acuh tak acuh.” Madung berkata, “Gereja dipanggil untuk menjadi tanda dan instrumen kasih Allah yang membebaskan, membantu membangun masyarakat yang menghormati martabat manusia dan keadilan.”
Ia mengidentifikasi faktor-faktor struktural yang berkontribusi terhadap perdagangan manusia, termasuk kemiskinan, korupsi, penegakan hukum yang lemah, dan transformasi sosial yang terbatas. Ia menegaskan kembali bahwa pilihan Gereja yang mengutamakan kaum miskin adalah dimensi penting dan tak ternegosiasikan dari misinya.
Harapan dan pencegahan
Di tengah kesulitan ekonomi yang berkelanjutan dan tingkat migrasi tenaga kerja yang tinggi, Gereja di Flores mendorong kaum muda untuk mengejar jalur pekerjaan yang aman dan legal. Lembaga-lembaga Katolik, termasuk Institut Ledalero, memperluas program akademik yang dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan praktis dan kesadaran yang lebih kuat akan hak-hak mereka.
“Kami ingin kaum muda kami bekerja di mana pun mereka pilih,” kata Pastor Madung, “tetapi dengan martabat, perlindungan, dan pengamanan yang tepat.”
Bagi Gereja di Flores, perjuangan melawan perdagangan manusia bukan sekadar inisiatif sosial. Ini adalah ekspresi nyata dari seruan Injil untuk membela kehidupan dan martabat manusia, berdiri di samping mereka yang rentan dan menegaskan bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Editor/Translator: Francelino
Sumber : Vatican News



