Profile

Koster Medsos “Darling”: Semakin Dibully, Popularitas Semakin Tinggi

Quotation:
“Di dunia maya, ia bisa saja disindir tanpa henti. Namun ketika turun ke lapangan, gambarnya berbeda. Dalam berbagai kegiatan publik, warga menghampiri untuk bersalaman, meminta foto, atau berselfie. Antrean kecil sering terbentuk di sela acara resmi. Fenomena ini menunjukkan jarak antara persepsi digital dan interaksi langsung.”

Denpasar, SINARTIMUR.co.id – SOSOK Wayan Koster, Gubernur Bali, benar-benar media sosial (medsos) darling.

Nyaris nama Gubernur Koster tak pernah di medsos. Setiap kebijakan yang ia keluarkan segera berubah menjadi perdebatan. Potongan video beredar cepat, narasi dipelintir, komentar keras berderet panjang. Di dunia maya, ia kerap tampak sebagai figur yang terus disudutkan. Namun ada paradoks yang sulit dibantah: semakin keras ia dibully, semakin tinggi pula tingkat pengenalannya.

Koster adalah salah satu kepala daerah yang dikenal luas secara nasional. Bukan semata karena Bali adalah destinasi dunia, melainkan karena ia konsisten mendorong kebijakan berbasis identitas lokal yang sering kali berani dan tidak populis.

Dalam masa kepemimpinannya, lahir sejumlah regulasi strategis, seperti menjaga aksara dan sastra bali, endek bali dan penggunaan pakian adat bali pada hari tertentu untuk menjaga arah pembangunan Bali yang berbudaya. Puncaknya adalah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali, yang memberi landasan hukum khusus bagi pembangunan Bali berbasis budaya, kearifan lokal, dan keberlanjutan lingkungan.

Undang-undang ini mempertegas visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali sebagai fondasi pembangunan jangka panjang, sekaligus memperkuat posisi Bali dalam tata kelola pariwisata, pelestarian desa adat, hingga perlindungan ekosistem. Pengakuan terhadap kapasitas kepemimpinannya juga datang dari ranah komunikasi publik.

Pada 2023, ia dinobatkan sebagai Top Government Public Relations Figure oleh Government Public Relations (GPR) Institute, sebuah penghargaan yang mengakui kemampuannya merespons tantangan era digital serta membuka akses informasi publik secara luas. Penghargaan itu mencerminkan bahwa di tengah kritik media sosial, ia justru dinilai mampu mengelola komunikasi pemerintahan secara adaptif.

Dua tahun berselang, pada 2025, Koster menerima penghargaan Innovation and Public Official Leader Award dalam kategori Sustainable Development Program Policy. Penghargaan ini menegaskan peran strategisnya dalam merancang kebijakan pembangunan berkelanjutan yang menjangkau berbagai sektor dari lingkungan, budaya, hingga ekonomi lokal. Di tengah arus global yang menekan daerah wisata seperti Bali, arah kebijakan yang menekankan keberlanjutan menjadi poin penting dalam pengakuan tersebut.

Di tingkat internasional, namanya juga pernah tercatat sebagai satu-satunya gubernur yang diundang menjadi pembicara dalam forum Transforming Transportation di World Bank Group, Washington D.C. Dalam forum itu, ia memaparkan pendekatan Bali dalam membangun sistem transportasi dan tata ruang berbasis filosofi lokal yang terintegrasi dengan isu perubahan iklim. Sebuah panggung global yang tak mudah diakses kepala daerah dari Indonesia.

Semua capaian itu berjalan berdampingan dengan realitas kontras di media sosial. Di dunia maya, ia bisa saja disindir tanpa henti. Namun ketika turun ke lapangan, gambarnya berbeda. Dalam berbagai kegiatan publik, warga menghampiri untuk bersalaman, meminta foto, atau berselfie. Antrean kecil sering terbentuk di sela acara resmi. Fenomena ini menunjukkan jarak antara persepsi digital dan interaksi langsung. Popularitas di dunia nyata tak selalu identik dengan nada komentar di linimasa.

Realitasnya sederhana, Koster bukan figur yang netral. Ia memecah opini. Tapi justru karena itu ia menjadi relevan. Banyak kepala daerah memilih aman dan jarang dibicarakan. Koster berada di sisi sebaliknya, sering dikritik, sering disorot, tetapi terus hadir dalam percakapan publik.

Di era demokrasi digital, satu hal terbukti, figur yang terus dibicarakan, bahkan dalam nada negatif, tetaplah figur yang berpengaruh. Dan sejauh ini, riuhnya media sosial tidak melemahkan popularitas Koster. Ia justru menguat di tengahnya.

Writer: Francelino
Editor: Francelino

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button