Ekonomi & Bisnis

Saab Mute Nagasepaha Tetap Eksis di Tengah Pergeseran Generasi

Quotation:
“Motifnya ada yang dikombinasikan oleh pengrajin untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Harganya juga relatif terjangkau, mulai Rp 25.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif dan permintaan,” jelas Sumeken.

Singaraja, SINARTIMUR.co.id – Kerajinan saab mute di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, masih bertahan di tengah perubahan zaman dan pergeseran generasi.

Kerajinan yang dibuat menggunakan daun lontar atau ental, kain beludru, dan mute tersebut tidak hanya digunakan untuk keperluan adat dan keagamaan Hindu, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Perbekel Desa Nagasepaha I Wayan Sumeken, S.Sos., mengatakan saab mute merupakan salah satu potensi budaya yang menjadi bagian dari identitas desa.

Pemerintah Desa Nagasepaha, kata dia, terus mendorong agar kerajinan tersebut tetap berkembang dan dapat menjadi salah satu ikon desa.

“Ini ikon kita. Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Sumeken saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9).

Pernah ditekuni hampir setiap perempuan

Menurut Sumeken, keterampilan membuat saab mute telah diwariskan secara turun-temurun. Pada era 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha memiliki keterampilan membuat kerajinan tersebut.

Saat itu, membuat saab menjadi kegiatan yang banyak dilakukan ibu rumah tangga setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Selain mengisi waktu luang, hasil kerajinan tersebut juga dapat membantu menambah pendapatan keluarga.

“Pada tahun 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha bisa membuat kerajinan saab. Selain mengisi waktu, hasilnya juga bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Namun, jumlah pengrajin mulai berkurang setelah memasuki tahun 2000-an.
Salah satu penyebabnya adalah semakin banyak generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sumeken menuturkan, jika dahulu sebagian besar masyarakat hanya menempuh pendidikan hingga SMP, kini semakin banyak anak-anak Desa Nagasepaha yang melanjutkan pendidikan hingga SMA bahkan perguruan tinggi.

Perubahan tersebut membuat pilihan pekerjaan generasi muda semakin beragam. Akibatnya, tidak banyak anak muda yang memilih meneruskan keterampilan membuat saab mute dari orangtua mereka.

Meski demikian, sejumlah warga masih bertahan menjadi pengrajin. Bagi mereka, membuat saab mute dapat dilakukan dari rumah sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

“Yang masih bertahan biasanya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membuat saab mute untuk menambah pendapatan keluarga,” imbuhnya.

Terus dikembangkan

Pemerintah Desa Nagasepaha terus berupaya menjaga keberadaan saab mute dengan menjalin kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, dan pihak lain yang peduli terhadap pengembangan kerajinan lokal.

Dukungan tersebut diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari kajian, pelatihan, praktik pembuatan kerajinan, bantuan bahan, hingga pendampingan pengelolaan usaha.

Sejumlah perguruan tinggi juga pernah melakukan penelitian terhadap saab mute. Kerajinan tersebut dinilai memiliki keunikan dan masih dapat dikembangkan menjadi berbagai produk.

Sumeken mengatakan, penggunaan saab mute juga tidak terbatas untuk kebutuhan adat dan keagamaan Hindu.

Kerajinan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai hiasan rumah, dekorasi dinding, hingga perlengkapan seperti tedung saji.

Untuk mengikuti kebutuhan pasar, para pengrajin mulai melakukan inovasi pada motif dan desain. Meski demikian, ciri khas saab mute Nagasepaha tetap dipertahankan.

“Motifnya ada yang dikombinasikan oleh pengrajin untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Harganya juga relatif terjangkau, mulai Rp 25.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif dan permintaan,” jelasnya.

Ditekuni sejak 2008

Salah satu pengrajin saab mute, Kadek Puniantari, mulai membuat kerajinan tersebut sejak 2008. Saat itu, Puniantari merupakan ibu rumah tangga yang belum memiliki pekerjaan. Ia kemudian belajar membuat saab mute sambil mengasuh anak.

“Saya mulai membuat saab mute sekitar 2008. Waktu itu sebagai ibu rumah tangga, saya belajar membuat saab mute sambil menjaga anak,” ujarnya.

Puniantari menggunakan daun lontar sebagai bahan utama, kemudian memadukannya dengan kain beludru dan mute.

Dalam sehari, ia dapat menyelesaikan sekitar dua hingga tiga saab, tergantung motif dan jumlah pesanan.

Semakin rumit motif yang dibuat, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan.
Selain proses pembuatan, pengrajin juga menghadapi kendala kenaikan harga bahan baku.

“Kendalanya bahan baku karena harganya terus naik, sementara harga kerajinan masih tetap. Ada persaingan dengan produk dari tempat lain sehingga harga harus menyesuaikan,” ungkapnya.

Puniantari berharap semakin banyak masyarakat mengenal saab mute Nagasepaha. Dengan demikian, pasar kerajinan dapat semakin luas dan para pengrajin tetap dapat mempertahankan keterampilan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi Desa Nagasepaha, saab mute bukan sekadar kerajinan untuk menambah pendapatan.

Kerajinan tersebut juga menjadi bagian dari pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang terus dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Writer: Francelino
Editor: Francelino

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button