Koster Ingatkan Ancaman di Balik Pembangunan Perumahan: “Jangan Korbankan Masa Depan Bali”

Quotation:
“Kita tidak boleh menyelesaikan persoalan perumahan hari ini dengan menciptakan persoalan ruang bagi generasi berikutnya,” tegas Koster.
Mangupura, SINARTIMUR.co.id – Gubernur Bali Wayan Koster mengingatkan pembangunan perumahan di Bali tidak boleh sekadar mengejar pemenuhan kebutuhan hunian. Pembangunan harus dirancang agar tidak mengorbankan lahan pertanian, sumber air, lingkungan, dan kebudayaan Bali.
Koster bahkan mengingatkan, persoalan kebutuhan rumah hari ini jangan sampai melahirkan persoalan ruang dan lingkungan bagi generasi mendatang.
“Kita tidak boleh menyelesaikan persoalan perumahan hari ini dengan menciptakan persoalan ruang bagi generasi berikutnya,” tegas Koster saat menghadiri Anugerah Inovasi Desain Rumah Bali Era Baru 100 Tahun ke Depan Berbasis Kearifan Lokal dan Teknologi Global di Politeknik Pariwisata Bali, Badung, Senin (5/10/2026).
Menurut Koster, keterbatasan ruang menjadi salah satu tantangan utama pembangunan Bali. Pada saat yang sama, kebutuhan hunian terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, dan perkembangan pariwisata.
Karena itu, pembangunan perumahan, kata dia, harus mampu menyediakan hunian yang layak dan terjangkau tanpa menggerus daya dukung lingkungan.
“Ketika berbicara tentang perumahan Bali untuk jangka waktu 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun ke depan, kita tidak cukup hanya menghitung berapa banyak rumah yang harus dibangun,” ujarnya.
Jangan Korbankan Sawah dan Sumber Air
Koster mengatakan rumah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat.
Perumahan berkaitan dengan tata ruang, desa dan kota, transportasi, air, energi, pangan, lapangan pekerjaan, pelayanan publik, hingga kehidupan sosial dan budaya.
Oleh sebab itu, pembangunan kawasan hunian harus terintegrasi dengan tata ruang dan infrastruktur dasar. Aspek perlindungan lingkungan serta mitigasi bencana juga harus diperhitungkan sejak awal.
Menurut Koster, kawasan permukiman harus dirancang aman, sehat, terhubung, berkelanjutan, sekaligus tetap mempertahankan karakter Bali.
Perencanaan juga harus melindungi sawah, kawasan lindung, ruang ekologis, sumber air, dan kawasan pesisir.
Risiko banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, serta berbagai potensi bencana lainnya harus menjadi bagian dari pertimbangan pembangunan.
Alih Fungsi Lahan Jadi Perhatian
Koster menjelaskan, arah pembangunan Bali dalam jangka panjang telah dituangkan melalui Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125 berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2023.
Haluan tersebut berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan keharmonisan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.
Arah pembangunan itu kemudian dijabarkan melalui RPJPD Semesta Berencana Provinsi Bali 2025-2045 dan RPJMD Semesta Berencana Provinsi Bali 2025-2029, serta diterjemahkan dalam kebijakan tata ruang, perumahan, dan investasi.
Koster juga menyinggung Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan Secara Nomine.
Menurut dia, kebijakan tersebut penting untuk memastikan pembangunan hunian tidak menggerus lahan pertanian produktif yang menjadi penopang pangan sekaligus keseimbangan ekologis Bali.
Tawarkan Konsep Sad Kerthi
Dalam forum tersebut, Koster menawarkan filosofi Sad Kerthi sebagai perspektif Bali dalam pengembangan perumahan dan permukiman di kawasan Asia Pasifik.
Sad Kerthi mencakup Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi. Filosofi tersebut menempatkan kehidupan manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang harus dijaga.
Koster juga menekankan pentingnya keberadaan desa adat dalam perencanaan kawasan permukiman.
Struktur sosial, tempat suci, ruang budaya, pola permukiman, tradisi gotong royong, hubungan masyarakat dengan lingkungan, hingga karakter arsitektur Bali dinilai perlu tetap mendapatkan ruang.
“Bali tidak ingin membangun masa depan dengan meninggalkan masa lalunya. Bali ingin membangun masa depan dengan mengambil nilai terbaik dari masa lalu, menjawab kebutuhan masa kini, dan menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” kata Koster.
Bukan Sekadar Bangun Rumah
Kegiatan tersebut diselenggarakan Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (SAPPK ITB) bekerja sama dengan Politeknik Pariwisata Bali dan Asia-Pacific Network for Housing Research (APNHR).
Acara tersebut menjadi bagian dari APNHR International Conference 2026 dengan tema “Navigating Asia-Pacific Housing Futures: Financialization, Technology, Governance, and Climate Action”.
Koster menilai forum tersebut penting untuk bertukar pengalaman dan membangun kolaborasi karena berbagai wilayah di Asia Pasifik menghadapi persoalan serupa.
Persoalan tersebut antara lain kenaikan harga tanah, urbanisasi, perubahan iklim, risiko bencana, keterbatasan ruang, ketimpangan akses hunian, serta tekanan terhadap masyarakat lokal.
Menurut Koster, keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak cukup diukur dari jumlah rumah atau bangunan yang berhasil didirikan.
“Kita tidak hanya ingin membangun lebih banyak rumah, tetapi membangun tempat hidup yang lebih baik. Pembangunan bukan tentang berapa banyak bangunan yang kita tinggalkan, melainkan tentang kehidupan seperti apa yang kita wariskan,” pungkasnya.
Writer: Francelino
Editor: Francelino



