Ekonomi & Bisnis

Koster Targetkan Zona Inti Pusat Kebudayaan Bali Mulai Dibangun Akhir 2026

Notes:
“Zona inti kawasan itu ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada akhir 2026, sedangkan pengembangan zona komersial akan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk pembangunan Bali Expo sebagai pusat promosi dan perdagangan.”

Denpasar, SINARTIMUR.co.id — Pemerintah Provinsi Bali mempercepat realisasi pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan (PKB) Bali di Kabupaten Klungkung. Zona inti kawasan itu ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada akhir 2026, sedangkan pengembangan zona komersial akan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk pembangunan Bali Expo sebagai pusat promosi dan perdagangan.

Target tersebut disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri pengukuhan dan pelantikan Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Bali periode 2026–2031 di The Keranjang Bali, Kuta, Kabupaten Badung, Kamis (7/8).

Menurut Koster, pembangunan kawasan diawali dengan penyelesaian proses tender zona inti pada akhir tahun ini. Konstruksi ditargetkan dimulai sekitar Desember 2026 dan rampung pada Desember 2027.

Setelah itu, pemerintah akan mengembangkan zona komersial melalui skema kerja sama dengan investor. Salah satu fasilitas utama yang direncanakan adalah Bali Expo yang diproyeksikan menjadi pusat promosi produk unggulan sekaligus mendukung aktivitas ekspor.

Koster mengatakan, keberadaan Bali Expo diharapkan memperkuat posisi Bali sebagai hub ekspor. Selama ini berbagai komoditas dari sejumlah daerah, seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Papua, telah diekspor melalui Bali. Namun, peran tersebut dinilai belum dikelola secara terintegrasi sehingga manfaat ekonominya belum optimal.

Menurut dia, Bali memiliki keunggulan berupa reputasi yang telah dikenal luas di pasar internasional. Faktor itu membuat produk yang memperoleh sertifikasi ekspor melalui Bali lebih mudah diterima di berbagai negara.

Karena itu, Koster mengajak pelaku usaha, termasuk GPEI, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), memperkuat kinerja ekspor Bali. Ajakan itu disampaikan setelah nilai ekspor Bali pada tahun ini tercatat turun sekitar dua persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menilai perlambatan ekspor dipengaruhi situasi geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, sejak Mei 2026 perekonomian Bali mulai menunjukkan tren pemulihan.

Pemulihan itu, menurut Koster, tercermin dari meningkatnya jumlah wisatawan
mancanegara dibandingkan periode yang sama pada 2025. Di sisi lain, jumlah wisatawan domestik turun sekitar 11 persen yang antara lain dipengaruhi kenaikan harga tiket perjalanan.

Meski kunjungan wisatawan domestik menurun, kondisi tersebut belum berdampak terhadap kinerja sektor pariwisata. Berdasarkan pemantauan Pemerintah Provinsi Bali, tingkat okupansi hotel dan penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) justru meningkat.

Hingga 31 Juli 2026, penerimaan PHR kabupaten/kota se-Bali bertambah sekitar Rp 300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut Koster, peningkatan itu menunjukkan kualitas belanja wisatawan semakin baik dan diharapkan menjadi modal untuk memperkuat perdagangan serta ekspor melalui pengembangan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali.

Writer: Francelino
Editor: Francelino

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button