Nasional

Pembangunan Shortcut Titik 9 dan Tititk 10 Dimulai, Koster Lakukan Groundbreaking

Quotation:
“Shortcut ini sangat mendesak, baik untuk penumpang maupun logistik. Sekarang pembangunan Titik 9 dan 10 sudah mulai berjalan,” tandas Koster.

Sukasada, SINARTIMUR.co.id – Gubernur Bali DR Ir I Wayan Koster, MM, memang hebat. Di kala publik mulai meragukan kelanjutan sejumlah mega proyek di Bali yang diprogram di periode kedua sebagai gubernur, justru Gubernur Koster tembus tembok pemerintah Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Gubernur Koster pun berhasil melobi pemerintah pusat terutama Menteri PU RI sehingga sejumlah mega proyek yang menjadi janji politik Koster saat kampanye pun berlanjut.

Sebagai bukti, hasil lobi Koster ke Menteri PU RI, pembangunan shortcut Singaraja-Menwitani dilanjutkan. Rabu (7/1/2026) Gubernur Koster melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan shortcut titik 9 dan titik 10 yang dikemas dengan nama proyek paket 1 dan paket 2 di wilayah Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Sebelum dilakukan groundbreaking diawali denhan Upacara Adat Ngeruak.

Gubernur Koster menegaskan bahwa pembangunan shortcut ini menjadi bagian dari strategi besar Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Pusat untuk memperkuat konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan, sekaligus meningkatkan keselamatan dan efisiensi transportasi.

Koster Perkenalkan Haluan Bali 100 Tahun Dalam sambutannya, Koster menegaskan bahwa percepatan penyelesaian Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani menjadi prioritas sejak dirinya kembali dilantik untuk periode kedua pada 20 Februari 2025.

Ia menyebut, beberapa minggu setelah pelantikan, dirinya langsung berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memastikan kelanjutan proyek dari Titik 1 hingga Titik 12. “Shortcut ini sangat mendesak, baik untuk penumpang maupun logistik. Sekarang pembangunan Titik 9 dan 10 sudah mulai berjalan,” tandas Koster dengan senyum khasnya.

Gubernur asal Buleleng itu menegaskan bahwa Pemprov Bali berperan aktif mengawal proses proyek, mulai dari tahap tender hingga penandatanganan kontrak. Pemprov Bali juga berkontribusi signifikan melalui pembebasan lahan agar pelaksanaan konstruksi tidak terkendala.

Gubernur berjanji akan penyelesaian pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani hingga Titik 12 sebelum masa jabatannya berakhir pada Februari 2030.

Ia mendorong agar proses pembebasan lahan Titik 11 dan 12 dapat dimulai pada 2026, sehingga konstruksi bisa berjalan pada 2027 atau 2028. “Saya ingin shortcut ini tuntas sampai Titik 12 sebelum masa jabatan saya berakhir,” ujarnya.

Menurut Koster, penuntasan infrastruktur jalan menjadi kunci menjaga keberlanjutan Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.

Ia menyebut sektor pariwisata menyumbang sekitar 66 persen terhadap perekonomian Bali.Jumlah kunjungan wisatawan ke Bali sepanjang 2025 tercatat mencapai 7,05 juta orang, tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini melampaui capaian sebelum pandemi Covid-19 yang berada di kisaran 6,2 juta wisatawan.

“Tingkat hunian hotel kini berada di kisaran 75 sampai 85 persen. Kalau ada yang bilang Bali sepi, itu keliru,” kata Koster.Meski demikian, ia mengakui lonjakan aktivitas pariwisata turut memicu persoalan kemacetan dan sampah.

Karena itu, lima tahun ke depan Pemprov Bali akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur konektivitas lintas wilayah untuk mengurai kemacetan dan mendukung pemerataan pembangunan.

Untuk kelanjutan shortcut tik 11 dan titik 12, Gubernur Koster menyebutkan dibutuhkan dana pembebasan lahan sebesar Rp 80 miliar. “Saya minta Ketua DPRD Bali dan Wakil Ketua DPRD Bali harus menyetujui ini, kalau tidak nanti tidak terpilih lagi dalam Pemilu 2029 nanati,” ucap Koster sambil berkelakar.

Menjawab pertanyaan wartawan, Gubernur Koster menyatakan bahwa kelanjutran pembangunan shortcut tikik 9 dan titik 10 sebagai wujud memenuhi janjinya kepada masyarakat Buleleng.

Bukan hanya itu, mega proyek lainnya yang dijanjikan Koster untuk masyarakat Buleleng yakni pembaikan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Sangsit pun sedang lama proses pembuatan DED.

Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Asep Syarif Hidayat, mengatakan penanganan Titik 9 dan 10 mencakup total panjang 3,90 kilometer, terdiri dari jalan sepanjang 2,95 kilometer dan jembatan sepanjang 942 meter.Untuk Paket 1, proyek bernilai Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender.

Pekerjaan meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer dan tiga jembatan dengan total panjang 593 meter, dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO melalui pendanaan SBSN Tahun Anggaran 2025–2027.Asep menjelaskan, ruas jalan Singaraja–Mengwitani saat ini memiliki tingkat risiko kecelakaan tinggi, dengan kemiringan hingga 27 persen dan rata-rata 140 kecelakaan per tahun.

Dengan perbaikan geometrik, waktu tempuh dipangkas dari sekitar 21 menit menjadi 8 menit, kelandaian diturunkan hingga maksimal 10 persen, serta emisi karbon kendaraan diperkirakan berkurang sekitar 10 persen.Hingga kini, Pemerintah Provinsi Bali telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar.

Untuk menuntaskan seluruh ruas shortcut Singaraja–Mengwitani, masih dibutuhkan anggaran sekitar Rp 512 miliar untuk sejumlah titik lanjutan.

Turut hadir dalam acara itu Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, Wakil Ketua DPRD Bali IGK Kresna Budi, Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, Wabup Buleleng Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Sekda Buleleng Gede Suyasa, dan para kadis di Buleleng.

Writer/Editor: Francelino

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button