
“Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?” (1 Samuel 19:5–6)
DAUD — sang pahlawan Israel — baru saja membawa kemenangan besar bagi bangsanya, la menundukkan Goliat, membuat seluruh Israel bersorak-sorai, dan memulihkan martabat bangsa yang lama terhina oleh Filistin. Namun, pujian yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi seluruh Israel justru menjadi racun bagi hati raja Saul.
Ketika rakyat berseru, “Saul mengalahkan beribu-ribu, tetapi Daud berlaksa-laksa,” (1 Samuel 18:8), muncullah sesuatu yang paling berbahaya dalam hati manusia: iri yang diselimuti rasa tidak aman. Saul mulai takut kehilangan posisi, kehilangan pujian, kehilangan kendali. Dan sejak saat itu, alkitab mencatat dengan tegas: “sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud”
Perhatikan baik-baik: Daud tidak pernah berbuat jahat kepada Saul, la tidak merebut tahta, tidak melawan, tidak berkhianat. Tapi Saul membencinya tanpa alasan. Inilah bentuk kebencian paling busuk: kebencian yang lahir dari hati yang tidak tenang, Rasa tidak aman membuat seseorang sulit bersyukur dan cepat curiga, la melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, bukan berkat, la lupa bahwa kasih karunia Tuhan tidak mengurangi bagiannya. Orang yang hatinya dikuasai iri dan takut kehilangan, akhirnya menjadi buta dan tega melukai yang tidak bersalah. Itulah sebabnya Yonatan, anak Saul sendiri, harus menegur ayahnya: mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap orang yang tidak berdosa dengan membunuh Daud tanpa alasan?”
Kebencian tanpa alasan bukan hanya dosa terhadap sesama, tapi juga pemberontakan halus terhadap Tuhan. Karena di balik kebencian itu tersembunyi sikap menolak kedaulatan Allah — seakan kita lebih pantas menentukan siapa yang layak dipuji atau diberkati.
Tuhan Yesus pun mengalami hal yang sama. la menyembuhkan yang sakit, memberi makan yang lapar, membangkitkan yang mati tapi para imam dan ahli Taurat justru membenci-Nya. Yohanes mencatat, “mereka membenci Aku tanpa alasan.” (Yohanes 15:25). Yesus dibenci bukan karena kejahatan, tetapi karena kebaikan yang mengancam kenyamanan orang jahat. Dan ia telah mengingatkan kita: “jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku.” (Yohanes 15:18)
Jadi, jika engkau berbuat baik lalu dibenci jangan heran. Jangan marah. Jangan berhenti berbuat baik. Karena dunia yang gelap memang tidak tahan melihat terang. Namun, hati-hati: jangan sampai kita sendiri yang membenci tanpa alasan. Itu berarti terang dalam diri kita mulai padam, ingatlah, yang paling berbahaya bukanlah dibenci tanpa alasan membenci tanpa alasan.
Questions:
1. Apakah Anda pernah merasa terganggu atau iri terhadap keberhasilan orang lain, padahal orang itu tidak berbuat jahat kepada Anda ?
2. Bagaimana Anda bisa menjaga hati agar tidak menjadi seperti Saul — membenci tanpa alasan dan kehilangan damai karena rasa tidak aman?
Values:
Orang yang hidup dalam terang Kristus Sang Raja tidak pernah iri dan takut tersaingi, karena kasih mengusir ketakutan dan membunuh akar kebencian.
Kingdom Quotes:
Membenci tanpa alasan adalah tanda hati yang tidak tenang dan iman yang belum dewasa.
Editor: Francelino
Sumber: King’s Sword (Rabu, 25 Februari 2026)



