
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya”. (Markus 10: 43-44)
PERNAH mendengar istilah, “Semakin tinggi pohon, sema semakin kencang anginnya”? Sebagai anak Tuhan, kuasa Roh Kudus yang kita terima seringnya membawa kita ke posisi yang lebih tinggi. Semakin kencangnya angin sebenarnya bukan hal yang buruk. Sepanjang sejarah, kita melihat begitu banyak tokoh yang jatuh, baik karena kepribadian individunya, maupun struktur organisasi yang kurang mumpuni. Kencangnya angin adalah akuntabilitas yang mengingatkan kita bahwasanya kita ini debu, yang disempurnakan hanya oleh kuasa Roh Kudus.
Menjalani hidup yang penuh kuasa dari Roh Kudus adalah pengalaman yang luar biasa. Di mana dulunya kita lemah, Tuhan jadikan sempurna dalam kuasa-Nya, untuk memberkati sesama (2 Korintus 12:9). Hal ini ternyata juga memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk merasa dibutuhkan. Kita semua suka perasaan itu, karena memang kita diciptakan dengan tujuan yang mulia, yaitu melayani sesama.
Namun manusia kadang kesulitan menjaga keseimbangan antara berjalan dengan kuasa dan akuntabilitas. Kadang, menjadi berkat bagi orang lain-karena terasa begitu memuaskan tanpa sadar, ada yang mulai melakukannya demi mendapatkan itu. Beberapa mungkin membenarkan diri karena ini adalah bentuk kemurahan hati, keharusan menjaga keteraturan, atau bahkan pengorbanan. Dan memang benar, pelayanan membutuhkan itu. Kita hanya perlu menjaga hati supaya motivasi kita tetap murni bukan untuk kepuasan atau keuntungan pribadi seperti jabatan, popularitas, fasilitas, dan sebagainya, namun hanya untuk kemuliaan nama Tuhan.
Akuntabilitas kadang rasanya tidak enak. Daging tidak menyukainya. Akuntabilitas menuntut kerendahan hati, Diperlukan hati seorang hamba. Seorang hamba menerima perintah dan melayani. Kadang setelah menjalani latihan. Semakin besar perannya, kadang semakin berat/panjang latihannya. Hamba yang baik terbuka terhadap kritik dan konsekuensi. Ya, akuntabilitas itu tidak enak. Tapi inilah yang bisa mencegah kita menyimpang.
Menyambung tentang pentingnya membawa powerbank untuk menjaga kehidupan spiritual kita, mengisi daya powerbank sama pentingnya. Powerbank yang tidak di-charge hanyalah sekumpulan bahan kimia, sama seperti kita-hanya debu. Powerbank harus terisi. Meski terkadang kita hanya bisa ‘quick charge’ 10 menit ataupun kadang menjalani hari dalam “power saving mode”. Kegiatan, tugas, bahkan “kewajiban” sekalipun, tidak boleh menjadi alasan kita untuk tidak mendekatkan diri pada Tuhan, apalagi hobi atau rasa malas. Betapapun tidak nyamannya sebenarnya akuntabilitas ini adalah bentuk kasih Tuhan yang bisa menghindarkan kita dari penyimpangan. (SO)
Questions:
1. Di manapun Tuhan tempatkan anda saat ini, angin apa yang sedang anda alami dan bagaimana Roh Kudus mengingatkan anda?
2. Jika dirasa terlalu sering berjalan dalam “power saving mode”, adakah langkah konkret yang anda bisa lakukan untuk memperbaikinya?
Values:
Kerendahan hati yang sejati dalam Tuhan meluputkan kita dari kecongkakan.
Kingdom Quotes:
Jangan takut angin kencang selama “powerbank”-mu penuh.
Editor: Francelino
Sumber: King’s Sword (Senin, 16 Februari 2026)



