Lima Warga Terjangkit DBD, Tim Relawan Dr Caput Lakukan Fogging di Banjarasem

Quotation:
“Saya mengapresiasi sekali gerak cepat dari Perbekel yang merupakan orangtua dari masyarakat Banjarasem. Jangan sampai di Desa Banjarasem ini justru ada korban karena DBD,” ucap Dokter Caput.
Seririt, SINARTIMUR.co.id — Sedikitnya lima warga Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, dilaporkan terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Menyusul laporan tersebut, tim relawan yang dipimpin dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG, melakukan pengasapan (fogging) di Banjar Dinas Dajan Margi, Minggu (5/7/2026).
Fogging dilakukan setelah Tim Reaksi Cepat (TRC) bentukan Putra Sedana menerima surat permohonan dari Pemerintah Desa Banjarasem. Sekitar 10 anggota tim diterjunkan untuk melakukan pengasapan di 11 rumah, meliputi rumah penderita dan lingkungan sekitarnya sebagai upaya menekan penyebaran nyamuk Aedes aegypti.

Perbekel Banjarasem I Made Sirsa mengatakan, pemerintah desa sebelumnya telah berkoordinasi dengan puskesmas setempat terkait penanganan kasus DBD. Namun, menurut dia, proses tindak lanjut belum dapat dilakukan dalam waktu cepat sehingga pemerintah desa mengajukan permohonan bantuan kepada TRC.
“Kami telah berkoordinasi dengan pihak terkait, tetapi terkendala prosedur sehingga penanganan belum bisa segera dilakukan. Karena itu, kami mengajukan permohonan bantuan kepada TRC agar fogging dapat segera dilaksanakan di lingkungan warga yang terdampak,” kata Sirsa.
Ia mengapresiasi respons cepat tim relawan yang langsung melakukan fogging setelah menerima permohonan dari pemerintah desa.

Ketut Putra Sedana yang memimpin langsung kegiatan tersebut mengatakan, langkah cepat pemerintah desa dalam melaporkan kasus DBD dan mengajukan permohonan bantuan merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat.
“Begitu menerima permohonan dari pemerintah desa, kami langsung menurunkan tim untuk melakukan fogging di lokasi yang dilaporkan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat dalam pencegahan penyebaran DBD,” ujarnya.
Selain melakukan fogging, tim relawan juga memberikan edukasi kepada warga mengenai pencegahan DBD melalui penerapan gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurut Dokter Caput, pencegahan tetap menjadi langkah utama dalam mengendalikan DBD. Apabila kasus sudah muncul, penanganan medis dan upaya pengendalian vektor harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
“Apapun penyakit termasuk DBD, intinya adalah pencegahan. Tapi ketika pencegahan ini tidak memungkinkan munculnya penyakit, maka kita harus tindak lanjuti dengan pengobatan,” jelas Dokter Caput.

Ia juga mengingatkan perlunya perhatian terhadap wilayah-wilayah yang berisiko tinggi mengalami kasus DBD, termasuk Desa Banjarasem. Berdasarkan laporan pemerintah desa, hingga saat ini terdapat lima warga yang terjangkit penyakit tersebut.
“Buleleng khususnya Seririt Desa Banjarasem adalah daerah endemis, tentunya ini menjadi perhatian khusus jangan sampai penyakit DBD ini akan membawa korban, yang tadi disampaikan Pak Perbekel di wilayah ini sudah ada lima orang yang terjangkit penyakit DBD,” tandasnya.
Dokter Caput menegaskan, “Kesehatan masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan upaya pencegahan secara bersama-sama.”
“Dan, saya mengapresiasi sekali gerak cepat dari Perbekel yang merupakan orangtua dari masyarakat Banjarasem. Jangan sampai di Desa Banjarasem ini justru ada korban karena DBD,” ucap Dokter Caput.
Writer: Francelino
Editor: Francelino



