Opini

Editorial: Santai Hadapi Bully-an Buzzer, Koster Bawa Bali Sebagai Destinasi Pariwisata Terbaik Dunia

Oleh: Francelino Xavier Ximenes Freitas – Pemred SINARTIMUR.co.id

Quotation:
“Sikap konsisten membangun pariwisata Bali di bawah hujan bully-an kaum nyinyir dan buzer, justru Gubernur Koster membawa Bali dalam suatu pencapaian di dunia internasional, yakni Bali dinobatkan sebagai Destinasi Pariwsata Terbaik Dunia 2026 versi TripAdvisor Travelers’ Choice Awards.”

SOSOK Dr Ir I Wayan Koster, MM, adalah figur fenomenal. Ia tidak pernah mundur selangkahpun walau mendapat serangan dahsyat berupa bully-an di media sosial (Medsos) dari lawan politik dan para buzzer.

Karakter Buleleng melekat keras pada diri Koster yang menjadi Gubernur Bali dua periode ini. Karakter Buleleng adalah terbuka, blak-blakan, suka mendapat tantangan, petarung, dan semakin keras dan berani bila dikerasin atau ditantang. Tidak ada dalam kamus orang Buleleng mundur dari pertempuran.

Karakter itulah yang terpatri kuat dalam jiwa Gubernur Bali Wayan Koster, sehingga ia terus menunjukkan sikap konsisten dalam merespons berbagai kritik publik terkait persoalan sampah, pariwisata, infrastruktur, hingga kemacetan yang kerap menjadi sorotan masyarakat dan pelaku industri. Di tengah dinamika pembangunan dan tingginya tekanan sektor pariwisata, Koster menegaskan bahwa kebijakan yang diambil Pemerintah Provinsi Bali tetap berlandaskan visi pembangunan jangka panjang dan keberlanjutan.

Koster juga mendapat beragam tanggapan terkait upaya penataan pariwisata yang lebih berkualitas dan berbudaya. Pembatasan terhadap praktik pariwisata yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai lokal Bali tetap ditegakkan, meskipun dianggap berpotensi menekan kunjungan wisata dalam jangka pendek. Gubernur Koster selalu menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata Bali tidak semata mengejar kuantitas, tetapi kualitas dan keberlanjutan.

Sikap konsisten membangun pariwisata Bali di bawah hujan bully-an kaum nyinyir dan buzzer, justru Gubernur Koster membawa Bali dalam suatu pencapaian di dunia internasional, yakni Bali dinobatkan sebagai Destinasi Pariwsata Terbaik Dunia 2026 versi TripAdvisor Travelers’ Choice Awards. Ini adalah sebuah sejarah gemilang di sektor pariwisata dunia yang dicatat Pulau Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Koster.

Sebuah tamparan luar biasa bagi kaum nyinyir dan para buzzer di medsos yang menyerang Gubernur Koster dengan isu jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menurun. Karena di kala para buzzer membully Gubernur Koster, di saat itulah dunia memberikan penghargaan tertinggi bagi Bali sebagai Destinasi Pariwisata Terbaik Dunia. Bali menempati peringkat nomor 1 dari 10 Top Destinasi Pariwisata Dunia, dengan memenangkan TripAdvisor Travelers’ Choice Award 2026.

Dalam isu pengelolaan sampah, Wayan Koster secara konsisten mendorong perubahan paradigma dari pola kumpul-angkut-buang menuju pengelolaan berbasis sumber. Kebijakan pembatasan plastik sekali pakai dan penguatan pengelolaan sampah di desa adat terus dijalankan meski menuai kritik dari sebagian kalangan yang menilai implementasinya belum merata. Pemerintah provinsi menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis untuk menjaga lingkungan Bali dalam jangka panjang.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur dan persoalan kemacetan menjadi tantangan tersendiri seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan. Berbagai proyek jalan, transportasi, dan penataan kawasan terus dilanjutkan, meski kerap diiringi kritik terkait dampak sementara terhadap aktivitas warga. Pemerintah Provinsi Bali menyatakan bahwa proyek-proyek tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan jangka panjang dan mendukung pemerataan pembangunan antarwilayah.

Sikap konsisten Gubernur Koster dalam menghadapi kritik mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada visi. Namun demikian, pentingnya komunikasi publik yang intensif dan pelibatan masyarakat agar kebijakan yang diambil dapat dipahami serta didukung secara luas.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Gubernur Koster dalam berbagai kesempatan menegaskan komitmennya untuk tetap membuka ruang evaluasi dan perbaikan. Kritik publik dipandang sebagai bagian dari proses demokrasi, namun arah kebijakan disebut tidak akan bergeser dari upaya menjaga Bali tetap lestari, tertata, dan berdaya saing.***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button